Kamis, 14 November 2013

AHLAQ DAN CORAT-CORET


MENGAPA PEMBINAAN IMTAQ DAN AKHLAK MULIA DISEKOLAH
 MULAI LUNTUR / KRISIS
Ahir-ahir ini banyak para orang tua mengeluh dan kewalahan, karena sulitnya anak-anaknya untuk melaksanakan Ibadah bahkan cenderung berahlaq yang tidak baik missal membantah perintah orang tua, melawan orang tua dll. Pembinaan Iman, Taqwa dan Akhlak mulia dalam diri anak sebaiknya dimulai sejak anak tersebut kecil. Dan proses pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia dimulai secara langsung oleh orang tua kemudian guru dan masyarakat. Proses pembinaan dapat juga dilakukan oleh individu itu sendiri akan tetapi tetap juga memerlukan batuan orang lain. Memang setiap manusia diciptakan Allah telah memiliki fitrah beragama sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 30 :

Artinya:  ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)

Dalam ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan berbagai potensi dalam diri manusia termasuk di antaranya potensi untuk beragama. Akan tetapi potensi atau fitrah beragama tersebut tidak akan dapat berkembang dengan baik tanpa adanya proses pendidikan, bimbingan dan pembinaan. Untuk itu Allah menjelaskan dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 (Iqra bismirobbikalladzi kholaq dst) bahwa manusia harus belajar karena dengan belajar manusia dapat mengembangkan dirinya termasuk mengembangkan fitrah beragamanya. Pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia merupakan pengembangan potensi beragama seseorang. Dan dalam pembinaan tersebut diperlukan berbagai upaya dan strategi agar pembinaan yang dilakukan dapat mencapai tujuan dengan optimal.
           
IMTAQ merupakan singkatan dari kata Iman dan Taqwa. Adapun yang dimaksud dengan Iman adalah keyakinan akan keesaan Allah yang ditunjukkan dari pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lidah dan pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan yang dimaksud dengan Taqwa adalah selalu mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, serta merasa takut kepada-Nya baik secara sembunyi maupun secara terang-terangan. Dengan demikian berdasarkan pengertian tersebut, berarti Iman bukan saja merupakan kepercayaan yang bersifat pribadi akan tetapi mempunyai eksistensi terhadap seluruh kehidupan manusia dalam artian Iman harus diimplikasikan dalam segala aspek kehidupan. Adapun Taqwa bukan merupakan suatu konsep teori, dia memerlukan kenyataan dalam karya, gerak dan interaksi. Untuk memperoleh Taqwa tidak cukup berupa pernyataan percaya dan cinta kepada Allah SWT atau beriman, tetapi Taqwa juga memerlukan pengakuan terhadap Allah melalui peribadatan, pelayanan dan perhatian kepada orang lain melalui kebenaran, kejujuran dan keikhlasan.

Adapun yang dimaksud dengan Akhlak menurut Al-Ghazali adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Pendapat lain mendefinisikan Akhlak adalah “sebuah sistem yang lengkap yang terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau tingkah laku yang membuat seseorang menjadi istimewa.” Ibrahim Anis merumuskan pengertian Akhlak sebagai “keadaan yang tertanam dalam jiwa, yang darinya lahir berbagai macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.” Sementara Abu Bakar Jabar Al-jazairi, juga mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud dengan Akhlak adalah kebiasan yang melekat dari dalam jiwa yang disandarkan kepadanya perbuatan-perbuatan baik berupa keinginan dan pilihan dari yang baik dan yang buruk dan dari yang indah maupun jelek.”       

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapatlah  disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Akhlak adalah suatu perbuatan, tingkah laku, sifat atau perangai manusia yang tertanam dan  melekat dalam jiwanya yang kesemuanya itu timbul atau muncul tanpa memerlukan proses pemikiran yaitu secara spontan tanpa memerlukan pertimbangan dan perbuatan atau sikap yang lahir terkadang berupa perbuatan yang baik dan terkadang perbuatan yang buruk. Sedangkan yang dimaksud dengan Akhlak mulia adalah suatu sikap yang darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji baik dari segi akal maupun syara’. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahami bahwa Iman, Taqwa dan Akhlak merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam artian orang yang beriman maka keimanannya harus diwujudkan dengan ketaqwaannya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya yang dari ketaqwaan tersebut akan lahir Akhlak yang mulia. Dengan demikian Akhlak yang mulia merupakan buah dari Iman dan Takwa.

Sekolah muncul untuk merespon kebutuhan masyarakat terutama orang tua yang memerlukan bantuan dalam mendidik anak-anaknya. Kebutuhan ini dikarenakan keterbatasan yang dimiliki orang tua baik dari segi waktu, pemahaman dan lain sebagainya. Dalam pendidikan Islam Sekolah disebut dengan Madrasah yaitu tempat siswa mendapat pelajaran dari guru yang diberikan secara paedagogik dan didaktik dengan tujuan mempersiapkan siswa menurut bakat dan kecakapan masing-masing sehingga mampu berdiri sendiri dalam masyarakat. Di sekolah diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan yang merupakan tujuan dari pendidikan di sekolah. Apalagi sekolah dewasa ini dengan diterapkannya KTSP maka tujuan pendidikan sekolah harus mencakup perpaduan  dari pengetahuan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Setiap siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah bukan hanya mengetahui, akan tetapi juga dapat memahami dan menghayati bidang tersebut yang tercermin dalam pola perilaku sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan sekolah sama dengan tujuan pendidikan Islam yang tidak hanya menjadikan seseorang beriman, bertakwa tetapi juga berakhlak mulia yang merupakan cerminan dari keimanan dan ketaqwaan dalam perilaku sehari-hari. Untuk melakukan pembinaan terhadap keimanan, ketaqwaan dan Akhlak mulia siswa di sekolah bukanlah merupakan hal yang mudah. Akan tetapi memerlukan strategi yang terencana dengan baik dan sistematis.

Strategi adalah suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian strategi dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak Mulia adalah rangkaian kegiatan yang direncanakan dan kemudian dilaksanakan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yaitu beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Dalam melakukan pembinaan IMTAQ dan Akhlak Mulia strategi yang digunakan mencakup perencanaan pendekatan yang digunakan, metode untuk menjalankan pendekatan tersebut dan teknik untuk membantu dalam melaksanakan metode. Karena dalam strategi terdapat pendekatan, metode dan teknik. Dengan demikian dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak Mulia di Sekolah ada beberapa hal yang perlu direncanakan agar tercapai tujuan dari pembinaan tersebut, yaitu :
           
1. Siapa yang melakukan pembinaan.
Guru merupakan tenaga pendidik di sekolah. Tugas guru tidak hanya mengajar akan tetapi juga mendidik dan membimbing siswanya baik di dalam kelas maupun di luar kelas bahkan di luar sekolah. Untuk melakukan pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia tidak hanya tugas dan tanggung jawab guru pendidikan agama Islam saja akan tetapi tugas seluruh guru yang ada di sekolah. Sebagaimana yang dikemukakan Athiyah al-Abrasyi, bahwa ”semua guru haruslah memperhatikan Akhlak peserta didiknya karena Akhlak keagamaan adalah Akhlak yang tertinggi, sedang Akhlak mulia adalah tiang dari pendidikan Islam.”Oleh karena itu dalam Pendidikan Agama Islam seorang guru harus memiliki beberapa syarat yaitu: 1) bertakwa, 2) berilmu, 3) sehat jasmani dan rohani, 4) berakhlak mulia, 5) memahami ilmu mendidik. Dengan memiliki syarat tersebut, diharapkan guru dapat menjadi teladan bagi para siswanya, sehingga ia tidak hanya memerintahkan siswanya untuk beriman, bertakwa dan berakhlak mulia akan tetapi juga memberikan contoh kepada siswanya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu menurut Ulwan, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam mendidik anak, karena seberapa besarnya usaha dan sarana yang dipersiapkan untuk mendidik anak, tidak akan berhasil selama ia tidak melihat sang pendidik sebagai teladan nilai-nilai moral yang tinggi.

Oleh karena itu dalam melaksanakan upaya pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia pada siswa di sekolah, maka harus mempersiapkan guru sebagai pembinanya yaitu memiliki keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia sehingga ia mampu menjadi teladan bagi para siswanya. Guru yang mampu menjadi teladan akan membuat siswanya mudah memahami apa yang diajarkannya dan memudahkan dalam mencapai tujuan dari pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia tersebut.
2. Pendekatan yang Digunakan.
Dalam melaksanakan pembinaan IMTAQ dan akhlak mulia pada siswa  guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan biijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan siswa. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan guru dalam membina IMTAQ dan akhlak mulia siswa yaitu:
a.      Pendekatan Individual.
Setiap siswa memiliki perbedaan individual  baik dari segi sifat, cara belajar, cara berfikir, tingkat kecerdasan dan lainnya. Perbedaan individual tersebut memberikan wawasan bagi guru bahwa strategi dalam mendidik harus memperhatikan perbedaan individu. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual dalam strategi pembinaan IMTAQ dan Akhlak siswa. Ketika guru memperingatkan siswa yang melakukan Akhlak tercela dapat menggunakan metode yang sesuai dengan siswa tersebut. Terkadang ada siswa yang cukup hanya diberikan pengertian berupa nasehat, didekati dan diajak untuk berteman layaknya sahabat, akan tetapi ada siswa yang dalam membina Akhlaknya tidak dapat dengan cara memberi nasehat akan tetapi langsung memberikan sanksi hukuman tegas. Oleh karena pendekatan individual dapat digunakan guru dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa di sekolah.
b.     Pendekatan edukatif.
Dalam mendidik guru dapat menggunakan pendekatan edukatif, dalam artian setiap tindakan yang dilakukan guru tidak terlepas dari tujuan utama yaitu mendidik. Ketika guru memberikan hukuman pada siswa dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak, hendaknya hukuman tersebut bersifat mendidik, bukan hukuman seperti memukul badannya hingga luka atau cidera. Begitu juga ketika menjalin hubungan dengan siswa hendaknya dilandasi dengan pendekatan edukatif.
c.      Pendekatan Pengalaman.
 Memberikan pengalaman lebih baik dari pada sekedar bicara dan tidak pernah berbuat sama sekali. Akan tetapi pengalaman hendaknya sesuai dengan tujuan pendidikan. Pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak siswa pendekatan pengalaman perlu dilakukan, misalnya dengan mengajak siswa untuk mengunjungi panti asuhan yang memberikan pengalaman kepada siswa akan pentingnya sikap saling tolong menolong, mengajak siswa shalat Zhuhur berjamaah, dan lain sebagainya.
d.     Pendekatan Pembiasaan.
Pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia pada siswa perlu menggunakan pendekatan pembiasaan karena dengan pembiasaan tersebut diharapkan siswa terbiasa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya dan berakhlak mulia. Dengan pendekatan pembiasaan ini siswa dibiasakan mengamalkan ajaran agama, baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya membiasakan siswa sebelum memulai pelajaran membaca doa dan tadarus Al-Quran, membiasakan siswa ketika bertemu guru mengucapkan salam dan bersalaman, membiasakan siswa memakai pakaian yang menutup aurat, membiasakan siswa tidak membuang sampah sembarangan, membiasakan siswa untuk segera melaksanakan shalat apabila telah waktunya, membiasakan siswa shalat berjamaah, dll.
e.      Pendekatan emosional.
Emosi mempunyai peranan penting dalam pembinaan keagamaan seseorang. Pendekatan emosional adalah suatu usaha menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini diusahakan selalu mengembangkan perasaan keagamaan siswa agar bertambah kuat keyakinannya akan kebesaran Allah dan kebenaran ajaran agamanya.
f.      Pendekatan Fungsional.
Pendekatan fungsional akan membuat siswa memahami bahwa ilmu pengetahuan yang diperolehnya tersebut dapat dimanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran agama yang diberikan di kelas bukan hanya sebagai pengetahuan bagi siswa akan tetapi guru juga harus mampu membuat siswa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Metode yang Digunakan.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan guru dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswanya di sekolah yaitu:
a. Metode Keteladanan.
Metode keteladanan sangat diperlukan dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa. Menurut Ramayulis, ”kecenderungan  manusia untuk meniru belajar lewat peniruan, menyebabkan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran.” Menurut Edi Suardi, keteladanan ada dua macam, yaitu: 1) sengaja berbuat untuk secara sadar ditiru oleh siswa, 2) berperilaku sesuai dengan nilai atau norma yang akan kita tanamkan pada siswa sehingga tanpa sengaja menjadi teladan bagi siswa.
Maksud yang pertama adalah mengajar guru berlaku sengaja agar siswa meniru perbuatannya, misalnya guru sengaja mengucapkan basmalah tatkala akan memulai pelajaran, sambil mengatakan agar siswa meniru ucapan guru tersebut. Sedangkan maksud macam keteladanan yang kedua adalah guru tidak sengaja melakukan perbuatan tertentu, akan tetapi seluruh pribadi guru sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi siswanya.
b. Metode Ceramah.
Metode ceramah tidak dapat dinilai baik atau buruk, tetapi sesuai tidaknya dengan tujuan. Untuk memberikan informasi kepada siswa yang harus diberikan secara lisan, maka metode ceramah dapat dipergunakan guru. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa metode ceramah dapat dipergunakan yaitu dalam memberikan penjelasan kepada siswa materi-materi yang berkenaan dengan IMTAQ dan Akhlak yang harus dijelaskan secara lisan. Misalnya menjelaskan pengertian shalat, rukun shalat, pengertian tayamum, syarat sah shalat, syarat wajib haji, dan sebagainya.
c. Metode Demonstrasi.
Metode demonstrasi adalah guru menggabungkan penjelasan verbal dengan sutau kerja fisik atau pengoperasian suatu peralatan atau benda. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa memberikan penjelasan materi yang tidak hanya menggunakan lisan akan tetapi juga contoh langsung kepada siswa sangat perlu dilakukan agar siswa lebih memahami akan materi tersebut. Misalnya, contoh berwudhu, contoh gerakan shalat, contoh bertayamum, cara mengkafani jenazah dan lain sebagainya.
d. Metode Praktik dan Perbuatan.
Materi agama  baik itu menyangkut keimanan maupun Akhlak yang diberikan guru kurang akan berarti apabila tidak dipraktekkan langsung kepada siswanya dan membuat siswa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana ulama salaf menuturkan bahwa  ilmu itu dapat bertambah dan semakin kuat jika diamalkan. Untuk itu dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikan sendiri materi yang telah diberikan dan menyuruh mereka untuk melaksanakannya dalam perbuatan sehari-hari.
e. Metode Hukuman dan Hadiah.
Maksud hukuman dalam pendidikan Islam adalah sebagai tuntutan dan perbaikan bukan sebagai hardikan atau balas dendam. Hukuman yang diberikan hendaknya bersifat edukatif. Suatu hukuman hendaknya jangan sampai menyinggung harga diri siswa, jangan sampai berupa penghinaan atasnya bahkan jangan sampai menggunakan cara kekerasan seperti memukulnya sehingga melukai dirinya. Metode hukuman dapat digunakan dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa, seperti siswa yang ketika shalat berjamaah tidak mengikuti tanpa alasan yang benar maka hal yang dapat dilakukan guru dengan memberi nasehat kemudian memberikan berbagai tugas yang membuatnya ingat untuk tidak mengulangi lagi akan kesalahannya.
Sedangkan metode hadiah dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak siswa juga dapat membangkitkan motivasi siswa melakukan suatu perbuatan yang terpuji. Hadiah tidak hanya dapat berupa benda akan tetapi kata-kata penghargaan pada diri siswa tersebut akan menyebabkan siswa mengulangi perbuatannya dengan labih baik lagi.
f. Metode Kasih Sayang.
Guru yang mengajar, mendidik, dan membimbing dengan penuh kasih sayang kepada siswanya akan menghasilkan kedaya-gunaan pada proses pembelajaran. Membimbing dengan kasih sayang mengandung makna ikatan batin dan penuh pengertian antara guru dan siswa, sehingga dengan adanya ikatan itu siswa belajar dengan semangat dan suka rela tanpa adanya paksaaan. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa metode kasih sayang dapat dipergunakan guru. Setiap kesalahan dan kelalaian siswa disikapi guru dengan sabar tanpa amarah yang tak terkendali tetapi menasehati dengan penuh kasih sayang.
g. Metode Cerita.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah guru dapat menggunakan metode cerita yang tujuannya untuk menunjukkan fakta-fakta kebenaran. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa metode cerita juga efektif digunakan guru, yaitu dengan menceritakan kisah-kisah baik dalam Al-Quran maupun kisah dalam kehidupan nyata tentang orang yang selalu mengerjakan shalat, tentang orang yang selalu bershalawat atas Nabi, dan sebagainya. Dengan cerita tersebut siswa akan tergugah perasaannya dan menambah keyakinan dalam dirinya akan ajaran agamanya.

BUDAYA CORAT-CORET TIDAK IDENTIK DENGAN BERSYUKUR

Pada hari Senin tanggal 15 Juni 2009 dan hari Sabtu tanggal 20 Juni 2009 secara serentak seluruh sekolah SMA/MA/SMK dan SMP/MTs mengumumkan hasil kelulusan Ujian Nasional tahun 2008/2009. Sesaat setelah itu, suka cita menyelimuti para pelajar yang berhasil lulus Ujian Nasional. Sebaliknya duka dan kesedihan menerpa bagi mereka yang gagal memenuhi standar nilai kelulusan sambil bergumam 3 tahun ditentukan oleh 3 sampai 4 hari saja (Subhanallah).Yang lulus meluapkan kegembiraannya dan yang gagal terpuruk dalam kesedihan dan luka yang mendalam. (mengulang atau paket C)

Sangatlah wajar bila kegagalan menimbulkan kesedihan yang mendalam, namun justru yang sangat tidak wajar adalah cara para pelajar meluapkan kegembiraannya saat mengetahui lulus mereka mencorat-coret bajunya, menandatangani bajunya, konvoi kebut-kebutan tidak mematuhi peraturan lalu lintas sehingga Polisi dibuatnya sibuk, kumpul-kumpul ditempat-tempat keramaian, nongkrong sambil merokok, pergi ketempat wisata berduaan, dengan alasan ingin merayakan kelulusan dll. Entah siapa pelopor pertama kebiasaan buruk ini dan sejak kapan ini semua berlangsung ?

Namun yang penting harus kita sadari bahwa kejadian ini semua telah menjadikan fenomena dan telah membudaya ditengah para pelajar dinegara kita Republik Indonesia ini. Yang semua kejadian ini disaksikan oleh ratusan juta pasang mata Masyarakat, Orang Tua, Guru, Dosen dan para siswa yang suatu saat nanti akan meniru hal yang serupa. Entah apa tanggapan mereka, mungkin ada yang prihatin, menganggapnya biasa-biasa saja atau malah bangga melihat anaknya pulang dengan baju penuh coretan sambil menggandeng pacarnya dan menggantungkannya didalam kamar untuk kenang-kenangan katanya.

Oleh karena itu, saya selaku Guru, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Raden Intan Lampung sekaligus orang tua justru merasa prihatin melihat fenomena ini, bahkan ketika mengamati secara lebih jauh muncul kekhawatiran yang mendalam akan hasil dari Proses Pendidikan kita ini. Apakah pendidikan kita selama ini hanya melahirkan BUDAYA CORAT-CORET ?

Ada sinyalemen negatif yang ditunjukkan oleh ekpresi corat-coret yang dilakukan para pelajar. Apabila mereka mencorat-coret diatas kanvas/kain mungkin bisa kita sebut ekpresi yang positif, namun bila mencoret pakaian sekolah sebagai atribut formal pendidikan kita, ini menunjukkan indikasi negatif. Hal tersebut justru mencerminkan cara berfikir para pelajar kita yang kacau balau, emosional dan liar, sama seperti bentuk-bentuk coretannya tsb.

Jika kita pandang dari perspektif Agama, mestinya pada saat kita mendapatkan nikmat dari Allah Lulus Ujian, kita wajib mensyukurinya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ibrahim ayat 7 Sbb :

7. dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Ayat ini jeles mengabarkan kepada kita bahwa orang yang pandai bersyukur justru akan mendapatkan tambahan nikmat yang lebih besar. Sebaliknya bagi yang tidak pandai bersyukur, maka nantikan saja datangnya azab yang pedih dari Allah SWT.

Pada ayat lain Allah juga berfirman Surat Lukman ayat 12 Sbb :

12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Rosulullah Saw mengajarkan apabila kita mendapat nikmat, maka disukuri dengan cara memuji Allah (Alhamdulillah), lalu sujud syukur dan menggunakan nikmat tersebut untuk beramal sholih. Penulis meragukan pernahkah para pelajar kita ditanamkan sikap syukur semacam itu ? atau telahkah pendidikan kita membangun pendewasaan intelektual sehingganya mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk ?. Namun sederhananya tampaknya harus ada yang ditinjau kembali dari proses pendidikan kita. Apa gerangan yang menyebabkan lahirnya para lulusan yang justru berfikir tidak dewasa bahkan tidak bermoral ?

Lulus SMA/MA/SMK dan SMP/MTs adalah usia yang sudah mulai beranjak dewasa. Bahkan para pelajar itu sendiri mengaku bahwa mereka SUDAH DEWASA dan mereka tersinggung kalau masih dianggap seperti anak-anak. Bahkan bagi umumnya masyarakat kita, lulusan SMA/MA/SMK adalah jenjang pendidikan yang cukup tinggi. Namun mengapa generasi terpelajar sering menunjukkan sikap yang sangat tidak dewasa, tidak bermoral dan mencerminkan prilaku yang tidak terdidik. Mereka bersikap SOK dewasa hanya pada saat pacaran saja, saling menyapa ayah-bunda dan bahkan ada diantaranya yang berhubungan layaknya suami-istri (Na’udzubillahi min-dzalik).

Inilah yang sangat kita khawatirkan. Yakni lahirnya generasi yang lebih memperturutkan hawa nafsu dan malas beribadah. Mereka lebih suka memburu hiburan, permainan, tontonan, pacaran dan hingga seks bebas. Pelajaran agama mereka anggap kuno dan urusan ibadah adalah pekerjaan kakek nenek yang sudah bau tanah/meninggal. Mereka rela berkorban apapun untuk memburu hiburan. Jiwanya telah kecanduan dan ketergantungan pada hiburan, sehingga akibatnya tidak bisa lagi diajak serius, tidak bisa diajak merenung dan berfikir mendalam. Akhirnya malang tak dapat ditolak telah tiba generasi yang jelek yang memperturutkan hawa nafsunya saja.

Sesungguhnya Allah SWT telah memperingatkan kepada kita, dalam surat Maryam ayat 59 Sbb :

59. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

Oleh karena itu mari kita didik anak-anak kita, agar menjadi generasi penerus bangsa menjadi generasi yang bermoral, bermartabat, berwibawa dan mulia dihadapan Allah, orang tua, masyarakat dan Negara lain. Yang selalu bersyukur kepada Allah, berterima kasih kepada orang tua, dan lembaga pendidikannya sehinga menjadi genarasi SHOLIH DAN SHOLIHAH. (AMIN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar