1. GURU DAN TANDA JASA
Guru merupakan
suatu profesi yang sudah selayaknya mendapatkan Tanda Jasa. Sudah tidak zamannya
lagi kita menghibur mereka dengan lagu-lagu sendu seperti dalam lirik Hymne
Guru. Sebutan ‘Pahlawan Tanpa
Tanda Jasa', mungkin sekarang hanya menjadi sebuah kalimat yang tak ada
nilainya. Betapa tidak ? para pahlawan ini memang tak pernah diingat oleh
siapapun dan kapanpun. Meski sejatinya ia bermakna dalam kehidupan manusia,
terutama di kalangan profesi guru.
Mungkin tidak banyak dari kita yang
tahu, bahwa pada tanggal 8 November 2007, Sartono, sebagai pencipta
Hymne Guru, disaksikan oleh Dirjen PMPTK Depdiknas, Dr. Fasli Jalal Ph.D
dan Ketua Pengurus Besar PGRI HM. Rusli, telah menandatangani surat resmi
tentang penggantian lirik terakhir dari Hymne Guru tersebut. Kata-kata “Tanpa Tanda Jasa” diganti menjadi “Pembangun Insan Cendekia”. Sehingga
Hymne tersebut diakhiri dengan “Engkau
Patriot Pahlawan Bangsa Pembangun Insan Cendekia.” Sebuah langkah yang
mungkin dirasa lumayan bijak untuk mengakhiri “penderitaan” guru yang tak
kunjung hilang (Frans IGN Bobii, 2007).
Guru seringkali menjadi korban
ketidakadilan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Predikat pahlawan tanpa
tanda jasa, seolah-olah dimaknai dengan guru memang wajar jika tak mendapatkan
balas jasa atas usahanya, atau minimal harus merasa cukup dengan balas jasa
yang alakadarnya karma toh memang pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal makna
hakiki dari “pahlawan tanpa tanda jasa” adalah bahwa jasa guru begitu besar
sehingga tidak ada satu tanda jasapun yang sebanding untuk membalas jasa yang
telah diberikannya.
Guru adalah tonggak pembangun dari
sebuah bangsa. Gurulah yang memiliki peran besar dalam menghasilkan
generasi-generasi penerus bangsa yang berilmu dan berkualitas. Kita tentunya
masih ingat saat Jepang dihancurkan oleh Sekutu dengan membombardir kota
Hiroshima dan Nagasaki. Hal yang pertama kali ditanyakan oleh kaisar Jepang
ketika itu adalah berapa dari guru-guru mereka yang selamat. Mengapa yang
ditanyakan bukan anggota parlemen, bukan dokter, pengusaha, atau arsitek (untuk
merancang kota kembali mungkin !), mengapa harus guru dan mengapa bukan yang
lain.
Dan mari kita saksikan apa yang terjadi
dengan Jepang saat ini jika kita bandingkan dengan bangsa kita, “Indonesia
tercinta”. Jepang melejit bagai roket, sedangkan kita bangsa Indonesia
terseok-seok dilanda berbagai macam krisis, mulai dari ekonomi, politik,
pendidikan hingga moral. Padahal Jepang dan Indonesia bangkit dari keterpurukan
pada saat yang sama. Jepang mulai bangkit kembali dari kehancurannya setelah
tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, dan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus
1945. Tapi kenapa mereka lebih maju? Jawabnya karma mereka mampu berfikir bijak
tentang apa yang semestinya dilakukan. Mereka tahu bahwa majunya sebuah Negara
sangat ditentukan oleh pendidikan. Kunci dari pendidikan itu adalah guru. dan
pemerintah Jepang sangat menyadari hal itu. Maka lihatlah mereka sekarang.
Jepang menjadi ikon untuk sebuah kemajuan. Sekarang mari lihat bagaimana
keberadaan guru di Indonesia.
Apa akibat dari rendahnya gaji guru terhadap dunia
pendidikan?
Dalam hidup ini ada yang namanya factor
sebab akibat. Secara teori, sebelum mengajar guru haruslah mempersiapkan bahan
ajar, mulai dari media mengajar sampai bahan latihan, kapan perlu guru harus
bisa lebih kreatif agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik bagi siswa.
sehingga apa yang mereka ajarkan benar-benar matang dan gampang dicerna.
Pastinya itu butuh waktu dan dana. Namun masalahnya adalah, banyak diantara guru-guru
yang harus menggeluti pekerjaan sampingan untuk dapat menutupi biaya hidup
(terutama yang sudah berkeluarga). Akibatnya, mereka tidak punya waktu lagi
untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Alhasil, proses belajar-mengajar di kelas
menjadi monoton dan cenderung membosankan sehingga transfer ilmu menjadi tidak
optimal. Lantas dengan kondisi seperti ini, apa kita pantas menyalahkan guru?
terkadang kita juga harus belajar untuk menilai dengan manusiawi.
Dalam hal ini saya bukan berarti
membenarkan guru yang demikian, namun yang tidak bisa saya terima adalah ketika
semua kesalahan ditimpakan kepada mereka. Bahkan ketika ada kasus pembocoran
soal ujian pun, pasti guru yang disalahkan (tentang ini insya Allah akan saya
bahas pada tulisan selanjutnya).
Guru seringkali disalahkan atas
ketidakberhasilan seorang anak. Guru dikambing hitamkan atas buruknya moral
anak. Guru, guru dan guru lagi. Semua salah guru. Karma tugas guru adalah
mendidik. Karma anak disekolahkan agar menjadi baik, agar pintar dan jadi orang.
Jarang orang-orang yang faham bahwa tugas mendidik itu tidak hanya tugas
sekolah, tugas guru. Tapi tugas semua aspek yang terkait dengan sang anak.
Terutama orang tua. Kita ambil contoh mudah, jika disekolah siswa dilarang
merokok, namun ketika si anak melihat ayahnya dirumah dengan santai merokok
diruang keluarga, di depan anak-anaknya, lalu dimana salah guru ketika anak
tersebut akhirnya menjadi perokok juga ?
Silahkan sekarang kita semua bisa mengamati
bagaimana perilaku kebanyakan anak sekolah. Tidak kenal sopan santun, bahkan –maaf-
kurang ajar terhadap guru. Tidak adalagi penghormatan apalagi merasa
berhutang budi. Mungkin mereka berfikir uang 100 ribu yang mereka bayarkan
setiap bulan sudah setimpal dengan harga ilmu yang mereka dapatkan. Atau mereka
selama ini sudah diobok-obok oleh kalimat “guru sebagai pahlawan tanpa tanda
jasa” dalam Hymne Guru yang sudah dihapalkan sejak dari SD, sehingga merasa
bahwa tidak perlu lagi hormat, toh mereka kan dibayar. Guru harus puas
dengan prediket “tanpa tanda jasa”
Untuk itu, saya merasa sangat setuju
dengan adanya penggantian lirik tersebut. Sehingga orang tidak lagi memandang
status guru sebagai status yang hina, status rendahan bahkan mungkin sampai ada
yang malu bercita-cita menjadi guru (karma jasanya tidak dibalas “kalau mau
kaya jangan jadi guru”).
Guru adalah sosok yang mulia, tanpa guru
tidak akan pernah ada kemajuan, karma tanpa guru, ilmu sebagai dasar sebuah
kemajuan tidak akan pernah berpindah tempat, tanpa guru . . .kita bukan
apa-apa, bahkan filsafah minang kabau mengatakan “ Alam Takambang Jadi Guru”.
Karna guru adalah “Pembangun Insan Cendekia”, maka sudah saatnya guru
mendapatkan tempat di hati kita, dihati setiap insan yang cinta ilmu, sudah
saatnya guru mendapatkan perlakuan terhormat meski itu tak berarti meminta guru
untuk menjadi orang yang gila kehormatan
Teruslah berjuang wahai guru,
kembangkan sayapmu dibelantara dunia..engkau patriot pahlawan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar