MENGAPA
PEMBINAAN IMTAQ DAN AKHLAK MULIA DISEKOLAH
MULAI LUNTUR / KRISIS
Ahir-ahir ini
banyak para orang tua mengeluh dan kewalahan, karena sulitnya anak-anaknya
untuk melaksanakan Ibadah bahkan cenderung berahlaq yang tidak baik missal
membantah perintah orang tua, melawan orang tua dll. Pembinaan Iman, Taqwa dan
Akhlak mulia dalam diri anak sebaiknya dimulai sejak anak tersebut kecil. Dan proses
pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia dimulai secara langsung oleh orang tua kemudian
guru dan masyarakat. Proses pembinaan dapat juga dilakukan oleh individu itu
sendiri akan tetapi tetap juga memerlukan batuan orang lain. Memang setiap
manusia diciptakan Allah telah memiliki fitrah beragama sebagaimana firman-Nya
dalam surat
Ar-Rum ayat 30 :
Artinya: ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Dalam ayat di
atas menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan berbagai potensi dalam diri
manusia termasuk di antaranya potensi untuk beragama. Akan tetapi potensi atau
fitrah beragama tersebut tidak akan dapat berkembang dengan baik tanpa adanya
proses pendidikan, bimbingan dan pembinaan. Untuk itu Allah menjelaskan dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 (Iqra
bismirobbikalladzi kholaq dst) bahwa manusia harus belajar karena dengan
belajar manusia dapat mengembangkan dirinya termasuk mengembangkan fitrah
beragamanya. Pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia merupakan pengembangan potensi
beragama seseorang. Dan dalam pembinaan tersebut diperlukan berbagai upaya dan
strategi agar pembinaan yang dilakukan dapat mencapai tujuan dengan optimal.
IMTAQ merupakan
singkatan dari kata Iman dan Taqwa. Adapun yang dimaksud dengan Iman adalah keyakinan akan keesaan
Allah yang ditunjukkan dari pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lidah dan
pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan yang dimaksud dengan Taqwa adalah selalu mengerjakan
perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, serta merasa takut kepada-Nya
baik secara sembunyi maupun secara terang-terangan. Dengan demikian berdasarkan
pengertian tersebut, berarti Iman bukan saja merupakan kepercayaan yang
bersifat pribadi akan tetapi mempunyai eksistensi terhadap seluruh kehidupan
manusia dalam artian Iman harus diimplikasikan dalam segala aspek kehidupan.
Adapun Taqwa bukan merupakan suatu konsep teori, dia memerlukan kenyataan dalam
karya, gerak dan interaksi. Untuk memperoleh Taqwa tidak cukup berupa
pernyataan percaya dan cinta kepada Allah SWT atau beriman, tetapi Taqwa juga
memerlukan pengakuan terhadap Allah melalui peribadatan, pelayanan dan
perhatian kepada orang lain melalui kebenaran, kejujuran dan keikhlasan.
Adapun yang dimaksud dengan Akhlak menurut Al-Ghazali adalah suatu
sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan
mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Pendapat lain
mendefinisikan Akhlak adalah
“sebuah sistem yang lengkap yang terdiri dari karakteristik-karakteristik akal
atau tingkah laku yang membuat seseorang menjadi istimewa.” Ibrahim Anis
merumuskan pengertian Akhlak
sebagai “keadaan yang tertanam dalam jiwa, yang darinya lahir berbagai macam
perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.”
Sementara Abu Bakar Jabar Al-jazairi, juga mengemukakan pendapat bahwa yang
dimaksud dengan Akhlak adalah
kebiasan yang melekat dari dalam jiwa yang disandarkan kepadanya
perbuatan-perbuatan baik berupa keinginan dan pilihan dari yang baik dan yang
buruk dan dari yang indah maupun jelek.”
Dari beberapa
pendapat para ahli di atas, maka dapatlah
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Akhlak adalah suatu perbuatan, tingkah laku, sifat atau
perangai manusia yang tertanam dan
melekat dalam jiwanya yang kesemuanya itu timbul atau muncul tanpa
memerlukan proses pemikiran yaitu secara spontan tanpa memerlukan pertimbangan
dan perbuatan atau sikap yang lahir terkadang berupa perbuatan yang baik dan
terkadang perbuatan yang buruk. Sedangkan yang dimaksud dengan Akhlak mulia adalah suatu sikap yang
darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji baik dari segi akal maupun syara’.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahami bahwa Iman, Taqwa dan Akhlak
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam artian orang yang beriman
maka keimanannya harus diwujudkan dengan ketaqwaannya menjalankan perintah
Allah dan menjauhi larangan-Nya yang dari ketaqwaan tersebut akan lahir Akhlak
yang mulia. Dengan demikian Akhlak yang mulia merupakan buah dari Iman dan Takwa.
Sekolah muncul
untuk merespon kebutuhan masyarakat terutama orang tua yang memerlukan bantuan
dalam mendidik anak-anaknya. Kebutuhan ini dikarenakan keterbatasan yang
dimiliki orang tua baik dari segi waktu, pemahaman dan lain sebagainya. Dalam
pendidikan Islam Sekolah disebut dengan Madrasah yaitu tempat siswa mendapat
pelajaran dari guru yang diberikan secara paedagogik dan didaktik dengan tujuan
mempersiapkan siswa menurut bakat dan kecakapan masing-masing sehingga mampu
berdiri sendiri dalam masyarakat. Di sekolah diajarkan berbagai macam
ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan yang merupakan tujuan dari pendidikan
di sekolah. Apalagi sekolah dewasa ini dengan diterapkannya KTSP maka tujuan
pendidikan sekolah harus mencakup perpaduan
dari pengetahuan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan
berfikir dan bertindak. Setiap siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah bukan
hanya mengetahui, akan tetapi juga dapat memahami dan menghayati bidang
tersebut yang tercermin dalam pola perilaku sehari-hari.
Berdasarkan
penjelasan di atas dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan sekolah sama dengan
tujuan pendidikan Islam yang tidak hanya menjadikan seseorang beriman, bertakwa
tetapi juga berakhlak mulia yang merupakan cerminan dari keimanan dan ketaqwaan
dalam perilaku sehari-hari. Untuk melakukan pembinaan terhadap keimanan,
ketaqwaan dan Akhlak mulia siswa di sekolah bukanlah merupakan hal yang mudah. Akan tetapi memerlukan strategi yang
terencana dengan baik dan sistematis.
Strategi adalah suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan
yang didesain untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian strategi dalam
pembinaan IMTAQ dan Akhlak Mulia adalah rangkaian kegiatan yang direncanakan
dan kemudian dilaksanakan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yaitu beriman,
bertakwa dan berakhlak mulia. Dalam melakukan pembinaan IMTAQ dan Akhlak Mulia
strategi yang digunakan mencakup perencanaan pendekatan yang digunakan, metode
untuk menjalankan pendekatan tersebut dan teknik untuk membantu dalam
melaksanakan metode. Karena dalam strategi terdapat pendekatan, metode dan
teknik. Dengan demikian dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak Mulia di Sekolah ada
beberapa hal yang perlu direncanakan agar tercapai tujuan dari pembinaan
tersebut, yaitu :
1. Siapa yang melakukan pembinaan.
Guru merupakan tenaga pendidik di sekolah. Tugas guru tidak hanya mengajar
akan tetapi juga mendidik dan membimbing siswanya baik di dalam kelas maupun di
luar kelas bahkan di luar sekolah. Untuk melakukan pembinaan IMTAQ dan Akhlak
mulia tidak hanya tugas dan tanggung jawab guru pendidikan agama Islam saja
akan tetapi tugas seluruh guru yang ada di sekolah. Sebagaimana yang
dikemukakan Athiyah al-Abrasyi,
bahwa ”semua guru haruslah memperhatikan Akhlak peserta didiknya karena Akhlak
keagamaan adalah Akhlak yang tertinggi, sedang Akhlak mulia adalah tiang dari
pendidikan Islam.”Oleh karena itu dalam Pendidikan Agama Islam seorang guru
harus memiliki beberapa syarat yaitu: 1) bertakwa, 2) berilmu, 3) sehat jasmani
dan rohani, 4) berakhlak mulia, 5) memahami ilmu mendidik. Dengan memiliki
syarat tersebut, diharapkan guru dapat menjadi teladan bagi para siswanya,
sehingga ia tidak hanya memerintahkan siswanya untuk beriman, bertakwa dan
berakhlak mulia akan tetapi juga memberikan contoh kepada siswanya dalam
kehidupan sehari-hari. Untuk itu menurut Ulwan, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam mendidik
anak, karena seberapa besarnya usaha dan sarana yang dipersiapkan untuk
mendidik anak, tidak akan berhasil selama ia tidak melihat sang pendidik
sebagai teladan nilai-nilai moral yang tinggi.
Oleh karena itu dalam melaksanakan upaya pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia
pada siswa di sekolah, maka harus mempersiapkan guru sebagai pembinanya yaitu
memiliki keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia sehingga ia mampu menjadi teladan
bagi para siswanya. Guru yang mampu menjadi teladan akan membuat siswanya mudah
memahami apa yang diajarkannya dan memudahkan dalam mencapai tujuan dari
pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia tersebut.
2. Pendekatan yang Digunakan.
Dalam melaksanakan pembinaan IMTAQ dan akhlak mulia pada siswa guru harus pandai menggunakan pendekatan
secara arif dan biijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan siswa. Ada
beberapa pendekatan yang dapat digunakan guru dalam membina IMTAQ dan akhlak
mulia siswa yaitu:
a. Pendekatan Individual.
Setiap siswa memiliki perbedaan individual baik dari segi sifat, cara belajar, cara
berfikir, tingkat kecerdasan dan lainnya. Perbedaan individual tersebut
memberikan wawasan bagi guru bahwa strategi dalam mendidik harus memperhatikan
perbedaan individu. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan
individual dalam strategi pembinaan IMTAQ dan Akhlak siswa. Ketika guru memperingatkan
siswa yang melakukan Akhlak tercela dapat menggunakan metode yang sesuai dengan
siswa tersebut. Terkadang ada siswa yang cukup hanya diberikan pengertian
berupa nasehat, didekati dan diajak untuk berteman layaknya sahabat, akan tetapi
ada siswa yang dalam membina Akhlaknya tidak dapat dengan cara memberi nasehat
akan tetapi langsung memberikan sanksi hukuman tegas. Oleh karena pendekatan
individual dapat digunakan guru dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa di
sekolah.
b. Pendekatan edukatif.
Dalam mendidik guru dapat menggunakan pendekatan
edukatif, dalam artian setiap tindakan yang dilakukan guru tidak terlepas dari
tujuan utama yaitu mendidik. Ketika guru memberikan hukuman pada siswa dalam
pembinaan IMTAQ dan Akhlak, hendaknya hukuman tersebut bersifat mendidik, bukan
hukuman seperti memukul badannya hingga luka atau cidera. Begitu juga ketika
menjalin hubungan dengan siswa hendaknya dilandasi dengan pendekatan edukatif.
c. Pendekatan Pengalaman.
Memberikan
pengalaman lebih baik dari pada sekedar bicara dan tidak pernah berbuat sama
sekali. Akan tetapi pengalaman hendaknya sesuai dengan tujuan pendidikan.
Pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman
keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dalam
pembinaan IMTAQ dan Akhlak siswa pendekatan pengalaman perlu dilakukan, misalnya
dengan mengajak siswa untuk mengunjungi panti asuhan yang memberikan pengalaman
kepada siswa akan pentingnya sikap saling tolong menolong, mengajak siswa
shalat Zhuhur berjamaah, dan lain sebagainya.
d. Pendekatan Pembiasaan.
Pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia pada siswa perlu
menggunakan pendekatan pembiasaan karena dengan pembiasaan tersebut diharapkan
siswa terbiasa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya dan berakhlak mulia.
Dengan pendekatan pembiasaan ini siswa dibiasakan mengamalkan ajaran agama, baik
secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya
membiasakan siswa sebelum memulai pelajaran membaca doa dan tadarus Al-Quran,
membiasakan siswa ketika bertemu guru mengucapkan salam dan bersalaman,
membiasakan siswa memakai pakaian yang menutup aurat, membiasakan siswa tidak
membuang sampah sembarangan, membiasakan siswa untuk segera melaksanakan shalat
apabila telah waktunya, membiasakan siswa shalat berjamaah, dll.
e. Pendekatan emosional.
Emosi mempunyai peranan penting dalam pembinaan
keagamaan seseorang. Pendekatan emosional adalah suatu usaha menggugah perasaan
dan emosi siswa dalam meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya.
Dengan pendekatan ini diusahakan selalu mengembangkan perasaan keagamaan siswa
agar bertambah kuat keyakinannya akan kebesaran Allah dan kebenaran ajaran
agamanya.
f. Pendekatan Fungsional.
Pendekatan fungsional akan membuat siswa memahami
bahwa ilmu pengetahuan yang diperolehnya tersebut dapat dimanfaatkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Pelajaran agama yang diberikan di kelas bukan hanya
sebagai pengetahuan bagi siswa akan tetapi guru juga harus mampu membuat siswa
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Metode yang Digunakan.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan guru dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak
mulia siswanya di sekolah yaitu:
a. Metode Keteladanan.
Metode keteladanan sangat diperlukan dalam
pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa. Menurut Ramayulis, ”kecenderungan
manusia untuk meniru belajar lewat peniruan, menyebabkan keteladanan
menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran.” Menurut Edi Suardi, keteladanan ada dua macam,
yaitu: 1) sengaja berbuat untuk secara sadar ditiru oleh siswa, 2) berperilaku
sesuai dengan nilai atau norma yang akan kita tanamkan pada siswa sehingga
tanpa sengaja menjadi teladan bagi siswa.
Maksud yang pertama adalah mengajar guru berlaku
sengaja agar siswa meniru perbuatannya, misalnya guru sengaja mengucapkan
basmalah tatkala akan memulai pelajaran, sambil mengatakan agar siswa meniru ucapan
guru tersebut. Sedangkan maksud macam keteladanan yang kedua adalah guru tidak
sengaja melakukan perbuatan tertentu, akan tetapi seluruh pribadi guru sesuai
dengan nilai-nilai ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi siswanya.
b. Metode Ceramah.
Metode ceramah tidak dapat dinilai baik atau
buruk, tetapi sesuai tidaknya dengan tujuan. Untuk memberikan informasi kepada
siswa yang harus diberikan secara lisan, maka metode ceramah dapat dipergunakan
guru. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa metode ceramah dapat
dipergunakan yaitu dalam memberikan penjelasan kepada siswa materi-materi yang
berkenaan dengan IMTAQ dan Akhlak yang harus dijelaskan secara lisan. Misalnya
menjelaskan pengertian shalat, rukun shalat, pengertian tayamum, syarat sah shalat,
syarat wajib haji, dan sebagainya.
c. Metode Demonstrasi.
Metode demonstrasi adalah guru menggabungkan
penjelasan verbal dengan sutau kerja fisik atau pengoperasian suatu peralatan
atau benda. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa memberikan penjelasan
materi yang tidak hanya menggunakan lisan akan tetapi juga contoh langsung
kepada siswa sangat perlu dilakukan agar siswa lebih memahami akan materi
tersebut. Misalnya, contoh berwudhu, contoh gerakan shalat, contoh bertayamum,
cara mengkafani jenazah dan lain sebagainya.
d. Metode Praktik dan Perbuatan.
Materi agama
baik itu menyangkut keimanan maupun Akhlak yang diberikan guru kurang
akan berarti apabila tidak dipraktekkan langsung kepada siswanya dan membuat
siswa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana ulama salaf
menuturkan bahwa ilmu itu dapat
bertambah dan semakin kuat jika diamalkan. Untuk itu dalam pembinaan IMTAQ dan
Akhlak mulia siswa guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mempraktikan sendiri materi yang telah diberikan dan menyuruh mereka untuk
melaksanakannya dalam perbuatan sehari-hari.
e. Metode Hukuman dan Hadiah.
Maksud hukuman dalam pendidikan Islam adalah
sebagai tuntutan dan perbaikan bukan sebagai hardikan atau balas dendam.
Hukuman yang diberikan hendaknya bersifat edukatif. Suatu hukuman hendaknya
jangan sampai menyinggung harga diri siswa, jangan sampai berupa penghinaan
atasnya bahkan jangan sampai menggunakan cara kekerasan seperti memukulnya
sehingga melukai dirinya. Metode hukuman dapat digunakan dalam pembinaan IMTAQ
dan Akhlak mulia siswa, seperti siswa yang ketika shalat berjamaah tidak
mengikuti tanpa alasan yang benar maka hal yang dapat dilakukan guru dengan
memberi nasehat kemudian memberikan berbagai tugas yang membuatnya ingat untuk tidak
mengulangi lagi akan kesalahannya.
Sedangkan metode hadiah dalam pembinaan IMTAQ dan
Akhlak siswa juga dapat membangkitkan motivasi siswa melakukan suatu perbuatan
yang terpuji. Hadiah tidak hanya dapat berupa benda akan tetapi kata-kata
penghargaan pada diri siswa tersebut akan menyebabkan siswa mengulangi
perbuatannya dengan labih baik lagi.
f. Metode Kasih Sayang.
Guru yang mengajar, mendidik, dan membimbing
dengan penuh kasih sayang kepada siswanya akan menghasilkan kedaya-gunaan pada
proses pembelajaran. Membimbing dengan kasih sayang mengandung makna ikatan
batin dan penuh pengertian antara guru dan siswa, sehingga dengan adanya ikatan
itu siswa belajar dengan semangat dan suka rela tanpa adanya paksaaan. Dalam
pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa metode kasih sayang dapat dipergunakan
guru. Setiap kesalahan dan kelalaian siswa disikapi guru dengan sabar tanpa
amarah yang tak terkendali tetapi menasehati dengan penuh kasih sayang.
g. Metode Cerita.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah guru dapat
menggunakan metode cerita yang tujuannya untuk menunjukkan fakta-fakta
kebenaran. Dalam pembinaan IMTAQ dan Akhlak mulia siswa metode cerita juga
efektif digunakan guru, yaitu dengan menceritakan kisah-kisah baik dalam
Al-Quran maupun kisah dalam kehidupan nyata tentang orang yang selalu
mengerjakan shalat, tentang orang yang selalu bershalawat atas Nabi, dan
sebagainya. Dengan cerita tersebut siswa akan tergugah perasaannya dan menambah
keyakinan dalam dirinya akan ajaran agamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar