GURU
PROFESIONAL
PEMBINA
MORAL ANAK BANGSA
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Untuk
Memenuhi Nilai
Penetapan
Angka Kredit Jabatan Guru
Oleh :
Drs. Hi. MA’ARIFUDDIN, M. Pd. I
NIP. 19680317 200003 1 006

YAYASAN AL-AZHAR LAMPUNG
SMA AL-AZHAR 3 BANDAR LAMPUNG
TP. 2013 / 2014
KATA PENGANTAR
Segala
puji syukur bagi Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat-Nya kepada kita,
sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah yang berjudul: ”GURU PROFESIONAL
PEMBINA MORAL ANAK BANGSA” dengan baik
Solawat
dan salam semoga tercurah kepada Junjungan Nabi Muhammad Saw, sahabatnya dan para pengikutnya hingga akhir
zaman (Amin Ya Robbal Alamin)
Akhirnya
penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya
Tulis Ilmiah ini masih banyak kesalahan dan kekeliruan, maka dari itu mengharapkan
kritik dan saran dari semua pembaca yang dapat membangun keberhasilan kami,
demi perbaikan tugas selanjutnya
Bandar lampung, 16 Agustus
2013
Penulis
Drs. Hi.
MA’ARIFUDDIN, M.Pd.I
NIP.19680317 2000 03 1 006
BAB. I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menjadi guru itu gampang-gampang
susah. Mengampu pelajaran tertentu yang telah ditekuni sekian lama dan terus
berulang tentu bukanlah pekerjaan sulit. Namun menghadapi murid yang selalu
berganti tiap tahun, memiliki karakter berbeda, dan tingkat penyerapan terhadap
materi pelajaran yang tak sama, pasti membutuhkan kesabaran dan ketelatenan
yang tinggi.
Guru yang tak sabar dan kurang
telaten akan terkurung oleh frustasi. Profesi mulia sebagai guru terasa sebagai
sebuah beban yang terus menghimpit. Bisa-bisa guru menjadi stres. Padahal guru
dalam berbagai sisi menjadi ukuran nilai yang darinya murid bercermin untuk
merangkai makna keteladanan.
Kesadaran terhadap tugas ganda
tersebut, mengajar dan cermin keteladanan, belum sebenarnya mengendap dalam
kepribadian guru kebanyakan. Tak jarang guru cepat puas saat merampungkan tugas
mengajar di kelas. Tapi justru seringkali emosinya muntah bila menghadapi murid
yang nakal. Guru terkesan enggan untuk memahami psikologi murid dari perspektif
eksistensi murid itu sendiri. Alih-alih begitu, psikologi murid dimengerti
dalam koridor subjektifitas guru yang jelas-jelas sangat jauh berbeda.
Akibat
jarak psikologis keduanya yang menganga, wajarlah jika lahir ketimpangan dalam
dinamika pendidikan. Kabar murid yang dihukum secara fisik bahkan kerap dengan
kekerasan akibat kenakalannya hingga saat ini masih sering terdengar. Fenomena
ini, disadari atau tidak, pada gilirannya akan meruntuhkan wibawa guru dimata
murid. Sehingga guru menjelma sebagai sosok yang ditakuti, tidak lagi disegani
dan dicintai.
Peran guru sangat vital bagi
pembentukan kepribadian, cita-cita, dan visi misi yang menjadi impian hidup
anak didiknya di masa depan. Dibalik kesuksesan murid, selalu ada guru yang memberikan inspirasi dan
motivasi besar pada dirinya sebagai sumber stamina dan energi untuk selalu
belajar dan bergerak mengejar ketertinggalan, menggapai kemajuan, menorehkan
prestasi spektakuler dan prestisius dalam panggung sejarah kehidupan manusia.
Di sinilah urgensi melahirkan
guru-guru berkualitas, guru-guru yang ideal dan inofatif yang mampu
membangkitkan semangat besar dalam diri anak didik untuk menjadi aktor perubahan peradaban dunia diera global ini. Kalau
guru-guru yang berinteraksi langsung dengan murid kurang professional, kreatif,
dan produktif, maka anak didik akan lahir sebagai kader penerus bangsa yang
malas, suka mengeluh, dan pesimis dalam menghadapi masa depan. Tidak ada etos
dan spirit perjuangan yang membara dalam dadanya. Ia lebih suka menikmati hidup
yang hedonis dan konsumtif dari pada capek-capek belajar dan mengejar cita-cita
mulia yang melelehkan dan membutuhkan perjalanan panjang yang berliku.
Jika
demikian, masa depan bangsa ini akan semakin terancam. Bangsa ini akan menjadi
bangsa kuli di negeri sendiri. Menjadi bangsa
yang tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki skills
entrepreneurship rendah, jiwa kemandirian dan semangat berkompetisi yang tidak
terbangun. Kekayaan sumber daya alam semakin dieksploitasi bangsa asing dengan
kompensasi yang sangat rendah. kemiskinan, pengangguran, dan ketidak adilan
terjadi dimana-mana. Perlahan, bangsa ini akan semakin mundur dan terbelakang
Jika bangsa ini terus terjerembab
dengan problem internalnya, terus bertikai dengan kawan sendiri demi meraih
kekuasaan, sedangkan kwalitas pendidikan, khususnya para guru tidak di
tingkatkan dengan profesional, maka bangsa ini akan semakin tertinggal dengan
Negara-negara yang dulunya jauh di bawah kita.
Dalam konteks ini, munculnya guru-guru
yang berkualitas menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda-tunda lagi
untuk mengubah masa depan bangsa kearah kemajuan pesat di segala aspek
kehidupan. Gurulah yang diharapkan seluruh elemen bangsa ini untuk mengubah
nasib bangsa besar ini menjadi bangsa yang disegani bangsa-bangsa lain di
dunia, karena prestasi besarnya. Lalu,
siapa yang pantas disebut guru berkualitas / Profesional ini ?
B. Identifikasi dan
Pembatasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang
masalah tersebut, maka
diidentifikasi beberapa permasalahan
sebagai berikut:
a.
Guru Profesional Sebagai Pembina Moral Anak-Anak
Bangsa
b.
Ketauladanan,
kedisiplinan Guru Profesional sangat diperlukan
c.
Pembelajaran akan berjalan baik bila para
Gurunya Profesional
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan beberapa
permasalahan yang telah teridentifikasi tersebut, maka agar memudahkan
pembahasan dan tidak terjadi pelebaran pembahasan, maka permasalahan dalam
penelitian ini dibatasi dalam hal : a. Guru Profesional Sebagai Pembina Moral
Anak-Anak Bangsa
C. Rumusan Masalah
Dengan
demikian dari pembatasan masalah tersebut dirumuskan dalam
permasalahan sebagai berikut:
”
Adakah Pengaruh Guru
Profesional Sebagai Pembina Moral Anak-Anak
Bangsa ? ”
D. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara
terhadap rumusan masalah ;
Ada Pengaruh Guru Profesional Sebagai Pembina
Moral Anak-Anak Bangsa
BAB. II
LANDASAN TEORI
A. Kriteria Guru
Menurut Husnul Chotimah (2008), guru, dalam pengertian sederhana adalah
orang yang memfasilitasi alih ilmu pengetahuan dari sumber belajar kepada
peserta didik. Sementara, masyarakat memandang guru sebagai orang yang
melaksanakan pendidikan di sekolah, masjid, mushola, atau tempat-tempat lain. Semua
pihak sependapat bila guru memegang peranan amat penting dalam mengembangkan
sumber daya manusia melalui pendidikan.
Perkembangan pesat teknologi informasi saat ini, kiranya menumbuhkan
tantangan tersendiri bagi guru. mengingat guru sudah bukan lagi satu-satunya
sumber informasi hingga muncul pendapat bahwa pendidikan bisa berlangsung tanpa
guru. Hal ini benar jika pendidikan diartikan sebagai proses memperoleh
pengetahuan. Namun, perlu diingat, pendidikan juga media pendewasaan, maka
prosesnya tidak dapat berlangsung tanpa guru.
Menurut Herawati Susilo pakar pendidikan Universitas Negeri Malang, ada
enam kriteria guru masa depan (ideal), yaitu benar sepanjang hayat, literate sains dan teknologi, menguasai
bahasa Inggris dengan baik, terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas,
rajin menghasilkan karya tulis ilmiah, dan mampu mendidik peserta didik
berdasarkan filosofi konstruktivisme dengn pendekatan kontekstual.
Berdasarkan penjelasan diatas, menurut Husnul Chotimah (2008), ada
beberapa kriteria guru ideal yang seharusnya dimiliki bangsa Indonesia di abad
21 ini.
Pertama, dapat membagi waktu dengan baik. Dapat membagi waktu antara
tugas utama sebagai guru dan tugas dalam keluarga, serta dalam masyarakat.
Kedua, rajin
membaca. Ketiga, banyak menulis. keempat, gemar melakukan penelitian. keempat
kriteria tersebut merupakan hal yang diperlukan seorang guru untuk menjadi guru
ideal.
Sedangkan menurut Wijaya Kusumah (2009), guru ideal adalah sosok guru
yang mampu menjadi panutan dan memberikan keteladanan. Ilmunya seperti mata air
yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya. Mengalir bening
dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.
Dari beberapa pengertian diatas, guru ideal dapat dijelaskan sebagai
berikut :
Pertama,
guru yang memahami benar profesinya. Profesi guru adalah profesi yang mulia.
Dia adalah sesosok yang selalu memberi dengan tulus dan tak mengharapkan
imbalan apa pun, kecuali ridha dari Tuhan pemilik bumi. Falsafah hidupnya
adalah tangan diatas lebih mulia dari pada tangan dibawah. Hanya memberi tak
harap kembali. Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh
peserta didiknya. Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S (Salam,
Sapa, Sopan, Senyum dan Sabar) dalam kesehariaannya.
Kedua,
guru ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. pengalaman mengatakan,
barang siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya ilmu. Namun, bila kita malas
membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin membaca, otaknya
ibarat mesin pencari “Google” di internet. Bila ada peserta didiknya yang
bertanya, memori otaknya akan bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para anak
didiknya dengan cepat dan benar. Wawasan guru yang rajin membaca akan terlihat
dari cara bicara dan menyampaikan pelajarannya.
Guru yang ideal adalah guru yang juga rajin menulis. Bila Guru malas
membaca, maka sudah bias dipastikan dia akan malas pula untuk menulis. Menulis
dan membaca adalah dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan. guru
yang terbiasa membaca, akan terbiasa menulis,dari membaca itulah guru mampu
membuat kesimpulan dari bacaannya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali
dalam gaya bahasanya sendiri,
Ketiga,
guru yang ideal adalah guru yang sensitive terhadap waktu. orang barat
mengatakan bahwa waktu adalah uang, time is money. Bagi guru, waktu lebih dari
uang dan bahkan bagaikan sebilah pedang tajam yang dapat membunuh siapa saja,
termasuk pemiliknya.guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, tidak
akan menorehkan banyak prestasi dalam hidupnya, Dia akan terbunuh oleh waktu
yang ia sia-siakan.
Karena itu, guru harus sensitive terhadap waktu. Saat kita menganggap
waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita sebagai manusia tidak
berharga. demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan
kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia
memperlakukan waktunya.
Keempat,
guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inofatif. merasa sudah
berpengalaman membuat guru menjadi kurang kreatif. dia akan merasa sudah cukup.
tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya.Dari
tahun ketahun, gaya mengajarnya itu-itu saja. rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) yang dibuatnya pun dari tahun ketahun sama, hanya sekedar coppy and
Paste. RPP tinggal menyalin dari kurikulum yang dibuat oleh pemerintah atau
menyontek dari guru lainnya. Guru menjadi tidak kreatif proses kreatif menjadi
tidak jalan.
Guru yang
kreatif adalah guru yang selalu bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia sudah
menjadi guru yang baik ? apakah dia sudah mendidik dengan benar ? apakah anak
didiknya mengerti pelajaran yang dia sampaikan ? dia selalu melakukan
introspeksi dan memperbaiki diri. dia selalu merasa kurang dalam proses
pembelajarannya. dia tidak pernah puas dengan apa yang dia lakukan. Selalu ada
inofasi baru yang dia ciptakan dalam proses pembelajarannya. Dia selalu
memperbaiki proses pembelajarannya melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Dia
selalu belajar sesuatu yang baru, dan merasa tertarik untuk membenahi cara
mengajarnya.
Kelima,
guru yang ideal adalah guru yang memiliki lima kecerdasan. Kecerdasan yang
dimiliki terpancar jelas dari karakter dan perilakunya sehari-hari, baik ketika
mengajar maupun saat hidup di tengah-tengah masyarakat. Kelima kecerdasan itu
adalah kecerdasan intelektual, kecerdasan moral, kecerdasan social, kecerdasan
emosional, dan kecerdasan motorik. Kecerdasan intelektual harus diimbangi
dengan kecerdasan moral, mengapa? sebab kecerdasan intelektual yang tidak
diimbangi dengan kecerdasan moral akan menghasilkan peserta didik yang hanya
mementingkan keberhasilan ketimbang proses. segala cara di anggap halal yang
penting target tercapai inilah yang terjadi pada masyarakat kita, sehingga
kasus korupsi merajalela dikalangan orang terdidik. karena itu, kecerdasan
moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga ia mampu berlaku jujur dala
situasi apapun. kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan.
Selain itu,kecerdasan sosial juga harus dimiliki oleh guru yang ideal
agar tidak egois.
Dia harus mampu
bekerja sama dengan karakter orang lain yang berbeda-beda. kecerdasan emosional
juga harus ditumbuhkan agar guru tidak gampang marah, tersinggung, dan mudah
melecehkan orang lain. Sedangkan kecerdasan motorik diperlukan agar guru mampu
melakukan mobilisasi yang tinggi sehingga mampu bersaing dalam memperoleh hasil
yang maksimal.
Menurut Balnadi Sutadipura (1985), kreativitas menjadi unsur penting
seorang guru. kreativitas adalah kesanggupan untuk hayal, fantasia tau imajinasi.
dalam the dictionary of education fluency, originality, adoptive and
spontaneous flexibility, and the ability to make logical evaluations.
Dalam definisi terakhir ini, tersimpul dua sifat khas dari kreatifitas,
originality dan kemampuan untuk membuat penilaian-penilaian yang logis. jelas,
kreativitas bukan hasil dari menghafal diluar kepala hasil metode jejal atau
metode bubur. menurut pandangan para ahli psikologi, seperti dirumuskan oleh
Horace atal, kreativitas adalah kemampuan untuk menemukan cara-cara baru bagi
pemecahan problem-problem, baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seni
sastra atau seni-seni lainnya, yang mengandung suatu hasil atau pendekatan yang
sama sekali baru bagi yang bersangkutan, meskipun untuk orang lain, merupakan
hal yang tidak begitu asing lagi.
Kreatifitas yang baru harus kita kembangkan adalah daya (cipta) yang
mula-mula timbul untuk merangsang anak didik kea rah penyajian kembali,
penelaahan kembali, rethinking, dan rediscovery, yang lambat laun, tetapi pasti
menjurus kearah penemuan yang baru dan timbulnya problem baru.
Dalam bidang pendidikan, pemegang kunci dalam pengembangan daya
kreatifitas anak adalah guru. Seorang guru yang ingin mengembangkan kreatifitas
pada anak-anak didiknya, harus terlebih dahulu kreatif. pada umumnya, guru yang
kreatif itu pernah mendidik oleh orang-orang yang kreatif dalam lingkungan yang
mendukungnya.
Douglas Brown J. Menamakan guru yang kreatif dengan sebutan Teacher
scholar. mengajar, katanya, jika dilakukan dengan baik paada hakikatnya juga
kreatif. para guru harus selalu mengomunikasikan kepada anak-anak didiknya
ide-ide lama dan ide-ide baru dalam bentuk yang baru. Brown merumuskan ciri-ciri
seorang teacher scholar sebagai berikut:
1. Mempunyai
keingintahuan yang tinggi (curiosity) selalu
mempelajari atau mencari tahu tentang segala sesuatu yang masih belum jelas
dipahaminya
2. Setiap
hal dianalisis dulu kemudian disaring dikualifikasi untuk ditelaah dan di
mengerti, lalu diendapkan dalam “gudang pengetahuannya”.
3. Memiliki
intuisi yang tajam, yaitu kemapuan bawah sadar yang menghubungkan
gagasan-gagasan lama
guna membentuk ide-ide baru.
4. Self
Disciple. hal ini mengandung arti bahwa guru yang kreatif itu memiliki
kemampuan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan sebelum mengambil suatu keputusan
akhir
5. tidak
akan puas dengan hasil sementara. dia tidak menerima begutu saja setiap hasil
yang belum memuaskannya
6. Suka
melakukan introspeksi. Sifat ini mengandung kemampuan untuk menaruh kepercayaan
terhadap gagasan-gagasan orang lain
Menurut Rina Eny Anawati (2008), proses kreatif dalam pembelajaran sangat
penting bagi seorang guru. Menciptakan suasana kelas yang penuh inspirasi bagi
siswa, kreatif, dan antusias merupakan salah satu tugas dan tanggungjawab
seorang guru. Dengan begitu, waktu belajar menjadi saat yang din anti-nantikan
oleh siswa. Namun, tugas ini tidaklah mudah. Apalagi saat ini, dimana teknologi
informasi sudah mulai merambah segala aspek kehidupan. Begitu pula, persaingan
hidup yang menjadi semakin ketat. menjadi figure dan contoh kreatif bagi setiap
nilai dan pencapaian kompentensi siswa adalah sebagai sebuah tantangan.
Untuk meningkatkan kualitas belajar siswa, dibutuhkan sebuah proses
kreatif dalam pembelajaran, yakni upaya-upaya penting yang dilakukan untuk
mendayagunakan potensi kognitif dan efektif dari siswa secara optimal, sehingga
ide-ide baru dan cerdas lebih terakomodasi. Proses kreatif juga berarti
bagaimana membuat setiap sisiwa memiliki multi perspektif dan cara pandang yang
luasterhadap sebuah fakta. Selain itu, proses kreatif juga berarti bahwa setiap
siswa mampu mengamati hal-hal detile yang menjadi rujukan dalam berpendapat
maupun menyelesaikan permasalahan, baik untuk dirinya sendiri maupun komunitas
dalam masyarakat.
Ada beberapa tahapan yang bisa dilaksanakan seorang guru untuk bisa
menjadi fasilitator proses kreatif dalam pembelajaran.
Pertama,
kemampuan untuk mengakomodasi gaya belajar setiap siswa. Masing-masing siswa
mempunyai pribadi yang unik dan gaya belajar yang berbeda.
Ada yang mempunyai
kecenderungan kinestetik, visual dan auditoria. pelajar yang memiliki
kecenderungan kinestetik adalah pelajar yang mudah mengasosiasikan informasi
dengan gerakan tubuh. mereka juga menyukai praktikdan proyek terapan. pelajar
yang memiliki kecenderungan visual mempunyai banyak symbol dan gambar.
Mereka juga menyukai peta pikiran (mind mapping), teratur dan suka warna.
Sedangkan pelajar yang memiliki kecenderungan auditoria, lebih suka untuk mendengarkan.
mereka suka mendengarkan penjelasan, cerita dan petuangan, gagasan maupun
kisah-kisah popular.
Tugas guru sebagai fasilitator adalah bagaimana meramu sebuah metode
pembelajaran yang tepat dan dapat mengakomodasi berbagai macam gaya belajar siswa
tersebut.
Kedua,
menciptakan suasana belajar yang menggairahkan. menciptakan suasana belajar
yang menggairahkan dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya
menggunakan presentasi pengajaran yang lebih hidup dan menarik bagi setiap
siswa. Hal ini dapat dilakukan lewat berbagai media dan alat pengajaran yang
tepat, termasuk teknologi tepat guna. Selanjutnya guru bisa menyusun bahan
pengajaran yang sesuai dengan minat siswa, merancang kelas, menggunakan musik,
dan mewarnai lingkungan sekeliling. Salah satu sarana untuk menumbuhkan rasa
bangga dan kepercayaan diri yang baik adalah dengan menempelkan hasil karya
siswa tersebut didinding kelas. Poin penting lain ialah keterlibatan aktif
siswa. Siswa yang mempunyai sikap analitis, dan pandai menulis membutuhkan
dorongan dan stimulasi yang terus-menerus.
Di sinilah peran penting seorang guru yang menjadi fasilitator siswa
untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, menjelajahi suatu ilmulebih dalam, dan
menggali lebih banyak informasi yang ada. Performa guru juga ikut adil untuk
ikut menciptakan suasana yang mendukung saat belajar. Guru yang optimis,
percaya diri, mempunyai kapasitas keilmuan yang tidak diragukan akan melejitkan
potensi siswa dan membuat siswa mwnjadi optimis dan percaya diri.
Ketiga,
kemampuan menanamkan nilai dan keterampilan hidup dengan kapasitas yang benar
bagi siswa. Di sinilah pentingnya mengajar dengan keteladanan. Sehingga
penerapan nilai dalam pribadi guru menjadi utama, .karena guru adalah model.
Sebagai contoh, keberhasilan menerapkan budaya membaca berawal dari budaya
mengajar yang terbangun dalam komunitas sekolah, mulai dari para guru, lalu
berlanjut kepada siswa. dalam konteks ini pula, guru dapat memberi simulasi
kepada siswa untuk memiliki cara pandang multi perspektif dalam menambahkan
betapa pentingnya nilai hidup yang positif.
Keempat,
menghilangkan segala hambatan dalam belajar dengan membangun interaksi,
kedekatan, dan komunikasi, dengan siswa, baik secara verbal maupun non-verbal.
kemampuan guru menjadi pendengar yang baik, sehingga berbagai macam pendapat
baru muncul dan terakomodasi, adalah hal yang sangat penting.
Ajarkan bahwa menghargai semua pendapat dapat memperkaya wawasan dan
membuka pikiran. Namun, kadang kala hambatan belajar yang bersifat internal,
sering muncul dan mendominasi pertemuan. Pola mengajar tradisional yang tidak
terbantahkan dan “aku selalu benar” dapat menjadi bumerang bagi guru. Oleh
kerena itu, singkirkan terlebih dahulu hambatan internal, baru kemudian
membangun interaksi yang lebih sehat dengan siswa.
Dari pendapat para pakar di atas dapat di amabil beberapa kesimpulan
mengenai kriteria guru ideal.
1. Orang
yang mempunyai kompetensi tinggi dengan banyak membaca, menulis, dan meneliti.
Ia adalah figur yang senang dengan pengembangan diri terus menerus tidak merasa
cukup dengan apa yang sudah dimiliki.
2. Mempunyai
moral yang baik, bias menjadi teladan, dan member contoh perbuatantidak sekedar
menyuruh dan berorasi.
3. Mempunyai skills untuk berkompetisi
dengan elemen bangsa yang lain dan sebagai sumber inspirasi dan motivasi kepada
anak didik.
4. mempunyai
kreatifitas dan inovasi tinggi dalam mengajar sehingga menarik dan memuaskan
anak didik.
5. Mempuinyai
tanggung jawab sosisl dengan ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan
problem-problem social kemasyarakatan.
Sekarang ini, guru di Indonesia yang mempunyai lima kriteria diatas
sangat sedikit. Mereka banyak yang hanya mengandalkan gelar kesarjanaannya
tanpa mengevaluasi kemampuan dan tanggung jawab besarnya sebagai figur pengubah
sejarah yang dituntut mempunyai kemampuan terbaik yang dipersembahkan untuk
murid-muridnya. Sebenarnya persoalan ini tidak lepas dari paradigma profesi.
Dalam arti, mengajar sebagai mata pencarian . Sehingga, kesibukan utama guru
adalah mencari nafkah keluarga. Lepas dari masih rendahnya gaji guru, namun
kesibukan mencari nafkah tidak bisa menjadi alasan malas belajar dan membaca.
B. Syarat Guru
Dalam menjalankan tugasnya seorang guru setidaknya harus memiliki
kemampuan dan sikap sebagai berikut :
1. Menguasai
kurikulum. Guru harus tahu batas-batas materi yang harus disajikan dalam
kegiatan belajar mengajar, baik keluasan materi, konsep, maupun tingkat
kesulitannya sesuai yang digariskan dalam kurikulum
2. Menguasai
substansi materi yang diajarkan. Guru tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan
bahan pelajaran yang telah ditetapkan, tetapi juga harus menguasai dan
menghayati secara mendalam materi yang akan diajarkan.
3. Menguasai
metode dan evaluasi belajar.
4. Tanggung
jawab terhadap tugas
5. Disiplin
dalam arti luas
Menurut M. Athiyah Al-Abrasyi, seorang guru agama harus mempunyai
syarat-syarat sebagai berikut:
1. Zuhud
tidak mementingkan materi dan mengajar karena mencari keridhoan Allah SWT
semata;
2. Kebersihan
guru baik jasmani mauppun rohaninya, bersih dalam pakaian rapih an berakhlak mulia
3. Ikhlas
dalam pekerjaan, yaitu seorang guru harus memiliki keikhlasan dan kejujuran
yang akan membawa kearah kesuksesan pendidikan.
4. Suka
pemaaf, dapat menahan kemarahan, lapang hati dan banyak sabar
5. seorang
guru merupakan seorang bapak sebelum ia seorang guru, artinya guru harus
mencintai muridnya seperti mencintai terhadap anaknya sendiri
6. Harus
mengetahui tabiat murid dan tingkat berfikir anak
7. Harus menguasai materi
pelajaran yang diberikan kepada muridnya serta memperdalam pengetahuannya.[2]
Dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, tentang system pendidikan nasional,
ditegaskan bahwa untuk dapat diangkat sebagai guru atau pendidik, maka yang
bersangkutan harus beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang maha Esa,
berwawasan pancasila, dan undang-undang dasar 1945, serta memiliki kualifikasi
sebagai tenaga pengajar (Pasal 28 Ayat 2).
Dan untuk menjadi tenaga guru agama(Islam), maka harus beragama sesuai
dengan agama yang diajarkan dan agama peserta didik yang bersangkutan, yakni
beragama Islam.
Selanjutnya, pada pasal 31 ayat 3 dan 4 dinyatakan bahwa setiap tenaga
kependidikan, termasuk didalamnya guru agama berkewajiban untuk melaksanakan
tugas dengan penuh tanggung jawab dan pengabdian, meningkatkan kemampuan
professional sesuai dengan tuntutan pekembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta pembangunan bangsa
Menurut Desi Reminsa (2008) ada beberapa syarat untuk menjadi guru idial,
antara lain memiliki kemampuan intelektual yang memadai, kemampuan memahami
visi dan misi pendidikan, keahlian mentransfer ilmu pengetahuan atau metodelogi
pembelajaran, memahami konsep perkembangan anak atau psikologi perkembangan,
kemampuan mengorganisasi dan mencari problem solfing (pemecahan masalah),
kreatif dan memiliki seni dalam mendidik.
Dalam perspektif agama, syarat menjadi guru yang ideal sebagai mana di
sampaikan KH. Moh. Hasyim Asyari ada dua puluh (20) macam :
Pertama
selalu istikomah dalam murokobah kepada Allah SWT. Murokobah adalah melihat
Allah SWT. Dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang
dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmah atau jalan yang terbaik bagi
dirinya dengan merasakan adanya pemantauan Allah SWT.
Terhadap
dirinya. Salah satu cirri murokobah menurut Dzunun Al-Misry adalah mengagungkan
apa yang diagungkan oleh Tuhan dan merendahkan apa yang di rendahkan oleh
tuhan. Murokobah merupakan salah satu dari sekian banyak tingkatan dari dan
langkah dalam tasawuf, selain Khauf, Raja, Tawadu, Khusyu, Dzuhud, dan
sebagainya
Kedua,
senantiasa berlaku khauf (takut kepada Allah) dalam setiap ucapan dan tindakan.
Sebab guru adalah orang yang dipercaya untuk menjaga amanat, baik itu berupa
ilmu, hikmah, dan perasaan takut kepada Allah. Sedangkan kebalikan dari hal
tersebut Khianat.
Ketiga,
senantiasa bersifat tenang.
Keempat,
senantiasa bersifat wara’. Menurut Ibrahim Adham, wara’ adalah meninggalkan
perkara subhat dan perkara yang tidak bermanfaat. Sedangkan menurut Yusuf Bin
Abid Wara’ adalah keliuar dari setiap perkara subhat dan mengoreksi diri dalam
setiap keadaan
Kelima,
selalu bersikap tawadu’. Syakh Junaidi menyatakan bahwa tawadu’ adalah
merendahkan diri dan melembutkan diri terhadap makhluk, atau patuk terhaap
kebenaran dan tidak berpaling dari hikmah, hukum, dan kebijaksanaan,
Keenam,
selalu bersikap khusyu kepada Allah SWT. Dalam sebuah syurat yang di
tulis Imam Malik kepasa Harun Ar-Rasyid, terungkap, apabila engkau mengerti
suatu ilmu, maka engkau akan melihat pengetahuan ilmu tersebut, berwibawa,
tenang, dan dermawan, karena Rosullulloh bersabda ‘para ulama adalah pewaris
para nabi’.
Sahabat umar
berkata “ Pelajarilah ilmu dan pelajarilah juga bersamanya ketenangan
kewibawaan.” Sebagian Ulama Salaf mengatakan kewajiban orang-orang berilmu
adalah selalu merendahkan diri kepada Allah SWT; Baik ditempat sunyi maupun
ramai menjaga dan menghentikan segala sesuatu yang menyulitkan diri sendiri
Ketujuh,
Menjadikan Allah SWT sebagai tempat meminta pertolongan
Kedelapan,
tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga mancapai ,keuntungan duniawi, baik
jabatan, harta, popularitas, atau agar lebih maju disbanding temannya myang
lain.
Kesembilan,
tidak diskriminatif terhadap murid.
Kesepuluh,
bersifat Zuhud dalam urusan dunia sebatas apa yang iya butuhkan yang tidak
membahayakan dirinya sendiri , keluarga, bersikap sederhana dan bersifat
konaah. Zuhud adalah menolak kesenangan atau kecintaan. Menurut Abu Sulaiman Ad
Darani, zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang memalingkan diri dari Tuhan atau
mengosongkan hati dari dorongan ingin bertambah lebih dari kebutuhan terhadap
makhluk.
Jelasnya, zuhud
adalah menganggap ringan suatu yang ada di dunia. Dengan hati seperti ini orang
yang zuhud tidak akan terpikat oleh harta duniawi dan tidak akan merasa sedih
sehingga iya lebih bias berkonsenterasi dalam dzikir kepada Allah SWT. Dan
kehidupan akhirat.
Kesebelas,
menjauhkan diri dari tempat-tempat yang rendah dan hina menurut manusia, juga
hal-hal yang dibenci oleh syariah maupun adat setempat misalnya.
Kedua
belas, menjauhkan diri dari tempat-tempat yang kotor dan maksiat
walaupun jauh dari keramaian. jangan melakukan sesuatu yang bias mengurangi
sifat muru’ah (menjaga diri dari perbuatan yang tidak terpuji).
Ketiga
belas, selalu menjaga syiar-syiar islam dan zahir-zahir hukum, seperti
sholat berjamaah di masjid, menyebarkan salam, amar ma’ruf nahi munkar, serta
senantiasa sabar terhadap musibah yang menimpanya. Selalu berpegang pada
kebenaran walaupun kepada para penguasa serta memasrahkan diri sepenuhnya
kepada Allah SWT tidak pernah merasa gentar, ataupun takut terhadap cacian
orang.
Keempat
belas, menegakkan sunah-sunah dan menghapus segala hal yang mengandung
unsur bid’ah, menegakkan segala hal yang mengandung kemaslahatan bagi kaum
muslimin dengan jalan yang dibenarkan sariat, dengan cara yang baik dan lembut,
baik menurut adat istiadat maupun watak.
Siapapun tidak
boleh merasa puas hanya melakukan hal-hal yang diperbolehkan baik segi dzohir
maupun batin. Namun, ia harus memaksa dirinya sendiri untuk melakukan yang
terbaik dan sempurna. Guru adalah panutan,orang yang diikuti dan menjadi tempat
bertanya masyarakat dalam berbagai masalah hukum.
Ulama adalah
Hudjatullah yang memberikan penerangan kepada masyarakat awam. Mereka selalu
diteladani muridnya tanpa mereka sadari dan ketahui. Petunjuk mereka akan
selalu diikuti oleh orang-orang. karena itu, jika orang alim tidak mampu memanfaatkan
ilmu yang dimilikinya, apalagi orang lain. Tentu, mereka tidak akan bisa
memanfaatkan ilmunya. Dan jika ini terjadi, maka iya adalah kesalahan yang
luarbiasa bagi guru, karena menimbulkan kerusakan pada orang-orang yang
mengikutinya.
Kelima
belas, membiasakan diri melakukan sunah yang bersifat syariat, baik
kauliah atau fi’liah, seperti membiasakan diri membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an
baik dihati atau dilisan, berdo’a dan berdzikir baik siang ataupun malam,
melakukan sholat, puasa, berhaji apabila iya sudah mampu, membaca sholawat
kepada nabi SAW. Mencintai mengagungkan dan memuliakannya.
Keenam
belas, bergaul dengan akhlak yang baik, seperti menampakkan wajah berseri, banyak mengucapkan
dan menyebarluaskan salam, memberikan makanan, menekan rasa amarah dalam
jiwa, tidak menyakiti orang lain, bersabar menerima cobaan dari orang
lain , mendahulukan orang lain namun jangan minta didahulukan, membantutetapi
jangan minta dibantu, selalu mensyuykuri segala kenikmatan yang berikan allah,
bersikap tenang dan mantap dalam memenuhi kebutuhan dalam
hidupnya, mempertaruhkan kedudukan demi
menolong orang lain, welas asih kepada fuqara’, orang miskin, mengasihi
tetangga, kerabat, murid, dan mau menolong mereka.
Ketujuh belas,
membersihkan hati dan tindakan dari akhlak yang jelek dan di lanjutkan dengan
perbuatan yang baik. termasuk akhlak yang jelek adalah berprasangka jelek
kepada orang lain, iri, dengki, marah bukan karena allah, menipu, sombong,
riya, ujub, (bangga diri), pamer, bakhil angkuh, tamak dan lain sebagainya.
Guru semestinya
menjaga diri dari sifat-sifat di atas dan budi pekerti yang jelek. karena,
setiap kejelekan berasal dari sifat di atas. sebagian ahli fiqh dan ulama yang
mempunyai hati kotor, dicoba allah swt. dengan sifat-sifat tersebut, terutama
sifat iri, ujub, riya, dan sombong.
Salah satu cara
mengobati penyakit iri adalah dengan keyakinan bahwa iri adalah suatu perbuatan
yang berlawanan dengan kehendak allah, karena semua sudah ditetapkan allah swt.
adapun cara mengobati sifat ujub, berbangga diri adalah dengan selalu mengingat
bahwa segala yang dimiliki, baik ilmu, pemahaman, kebaikan hati, kefasihan
lisan, dan sebagainy, adalah anugerah (fadhlun minallah) sekaligus amanat dari
allah swt. agar ia menjaga dengan sebaik-baiknya.
Kedelapan
belas, senantiasa bersemangat untuk mengembangkan ilmu dan
bersunggu-sungguh dalam setiap aktivitas ibadah, seperti membaca, menelaah,
menghafal, sehingga tidak ada waktu yang terbuang kecuali untuk mencari ilmu
dan mengamalkan ilmu. ia juga harus menggunakan waktunya untuk keperluan
secukupnya saja.
Imam Syafi’i Ra
berkata,’’Kewajiban bagi orang yang berilmu adalah menyampaikan dan
memperbanyak ilmunya dengan sekuat tenaga, bersikap sabar terhadap rintangan
yang menghadang dalam proses belajarnya, mempunyai niat yang ikhlas karena
allah
swt., dan selalu meminta pertolongan kepada
allah swt,’’ nabi muhamad saw. bersabda:”jagalah apa yang bermanfaat bagi
dirimu dan mintalah tolong kepada allah swt.’’
Kesembilan
belas, tidak boleh membeda-bedakan status,nasab dan usia dalam
mengambil hikmah dari semua orang. bahkan, seorang guru harus selalu mencari
faedah di mana pun ia berada.
Kedua
puluh, membiasakan diri untuk menyusun dan merangkum pengetahuan.
karena, hal itu akan memperdalam keilmuan dan juga memperbanyak pembahasan dan
rujukan. sebagaimana yang pernah diungkapkan al-khatib al-bagdadi, “hal
tersebut bisa menguatkan hafalan, mencerdaskan akal pikiran, mempertajam daya
nalar, memperjelas keterangan, memuat nama yang harum, dan mendapatkan pahala
yang besar dan abadi sampai hari kiamat.’’[3]
Dari keterangan
diatas dapat disimpilkan, syarat menjadi seorang guru ideal harus mempunyai
landasan keagamaan yang kokoh dan disiplin, memahami visi misi pendidikan
secara holistik dan integral, mempunyai kemampuan intelektual yang memadai,
menguasai teknik pembelajaran yang kratif.
C. Fungsi dan Tugas Guru
Selain sebagai actor utama kesuksesan pendidikan yang dirancang, ada
beberapa fungsi dan tugas lain seorang guru, antara lain:
1. Educator ( pendidik )
Tugas pertama guru adalah mendidik murid-murid sesuai dengan materi
pelajaran yang diberikan kepadanya. sebagai seorang edukator, ilmu adalah
syarat utama. membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti informasi, dan responsif
terhadap masalah kekinian sangat menunjang peningkatan kualitas ilmu guru.
Di era sekarang, untuk mengukur kompetensi, ijazah S-1 menjadi syarat
umumnya. Guru lama yang kenyang pengalaman dipaksa untuk kuliah lagi demi mendapatkan ijazah S-1 jika tidak, maka
dikhawatirkan guru-guru senior tersebut akan tersisih seiring aturan pemerintah
yang mewajibkan guru S-1.
Banyak guru yang berusia lanjut protes dan tidak mau melanjutkan
studinya, dengan berbagai alasan, seperti biaya, umur, waktu, kepala sekolah
seharusnya arif dan bijaksana merespons masalah ini. kaderiasi guru memang
sangat penting, namun menghhormati orang-orang yang mempunyai kontribusi
terhadap berdirinya sekolah juga penting.
Pelan-pelan, mereka akan menyadari dengan sendirinya. tidak usah dipaksa
dan dipecat, karena oni mengacaukan stabilitas sekolah. kalau kader-kader muda
tampil dengan baik dan profesional, maka guru-guru senior akan menyadari dan
pelan-pelan mereka menyerahkan otoritasnya kepada yang muda-muda.
Dalam menerima calon guru, kepala sekolah sebaiknya tidak hanya
mempertimbangkan ijazah, aspek kualitas adalah nomor satu. sangat penting
diadakan tes calon guru, baik teori maupun praktik untuk mengetahui sejauhn
mana kualitas, kemampuan menguasai kelas, dan kematangannya dalam mengajar. di
samping itu, mempelajati karakter, moral, dan dedikasi social calon guru juga
penting sebagai factor dominan kelak dalam mengawal proses belajar mengajar
yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan keuletan. dari sana, dapat diambil
guru yang benar-benar siap mengajar dengan hati, pikiran, dan prilakunya.
2. Leader ( pemimpin )
Guru juga seorang pemimpin kelas. karena itu, ia harus bisa menguasai,
mengendalikan, dan mengarahkan kelas menuju tercapainya tuijuan pembelajaran
yang berkualitas. sebagai seorang pemimpin, guru harus terbuka, demokratis,
egaliter, dan menghindari cara-cara keselarasan.
Seorang guru harus suka mengedepankan musyawarah dengan murid-muridnya
untuk mencapai kesepakatan bersama yang dihargai semua pihak. ia juga harus
suka mendengar aspirasi murid-muridnya mengenai pembelajaran yang disampaikan,
walau itu berupa kritik pedas sekalian.
Sebagai seorang pemimpin, guru juga harus pandai membaca potensi anak
didiknya yang beragam, dan mampi menggunakan multi pendekatan dalam mengajar
demi menyesuaikan potensi dan spesifikasi yang beragam dari murid-muridnya. ia
harus memberikan sanksi kepada muridnya yang melanggar aturan dengan tegas,
adil, dan bijaksana. ia juga harus
senantiasa memberikan teladan yang baik kepada murid-muridnya.
3. Fasilitator
Sebagai fasilitator, guru bertugas memfasilitasi murid untuk menemukan
dan mengembangkan bakatnya secara pesat. menemukan bakat anak didik bukan
persoalan muda, ia membutuhkan eksperimentasi maksimal, latihan terus menerus,
dan evaluasi rutin.
Negara-nagara maju sangat cerdik dan cerdas mengenal potensi unik anak
didiknya, dengan latihan dan pembinaan intensif dari pihak keluaraga, sekolah,
dan lembaga sosial kemasyarakatan. Sebagai fasilitator, guru tidak boleh
mendikte anak didiknya untuk menguasai suatu bidang. Anak harus dibiarkan
mengeksplorasi potensinya dan memilih potensi terbaik yang dimiliki sebagai
jalur hidupnya di masa depan. seorang guru hanya boleh memberikan bimbingan,
arahan, dan visi hidup kedepan, sehingga anak didik bersemangat mencari bakat
unik dan potensi terbesarnya demi meraih impian hidup di masa depan.
Menurut E. Mulyasa ( 2008 ), guru sebagai fasilitator sedikitnya harus
memiliki tujuh siukap seperti yang diidenfikasi Rogers(dalam Knowles, 1984)
berikut ini:
1. Tidak
berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya atu kurang terbuka.
2. Dapat
lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya.
3. Mau
dan mampi menerima ide peserta didik yang inovatif, dan kreatif, bahkan yang
sulit sekalipun.
4. Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap
hubungan debgan peserta didik seperti halnya terhadap bahan pembelajaran.
5. Dapat
menerima komentar balik (feedback), baik yang bersifaty positif maupun
negative, dan menerimanya sebagai pandangan yang knstruktif terhadap diri dan
prilakunya.
6. toleran
terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran.
7. Menghargai prestasi peserta didik, meskipun
biasanya mereka sudah tahu prestasi yang dicapainya.
Selain hal di atas, setidaknya terdapat Sembilan resep yang harus
diperhatikan dan diamalkan seorang guru, agar pembelajaran berhasil membedakan
kapasitas intelektual anak didik.
1. Kurangi
metode ceramah.
2. Berikan
tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik.
3. Kelompokkan
peserta didiknya berdasarkan kemampuannya.
4. Perkaya
bahan dari berbagai sumber actual dan menarik.
5. Hubungi
spesialis bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan.
6. Gunakan
prosedur yang bervariasi dalam penilaian.
7. Pahami
perkembangan peserta didik.
8. Kembangkan
situasi belajar yang memungkinkan setiap pesrta didik bekerja dengan kemampuan
masing-masing pada tiap pembelajaran.
9. Libatkan
peserta didik dalam berbagai kegiatan seoptimal mungkin.
Guru yang berhasil mengajar berdasarkan perbedaan tersebut biasanya
memahami peserta didik melalui kegiatan berikut nini.
1. Mengobservasi
p[eserta didik dalam berbagai situasi, baik dikelas maupun diluar kelas.
2. Menyediakan waktu untuk mengadakam pertemuan
dengan peserta didik, sebelum, selama dan setelah pembelajaran.
3. Mencatat
dan mengecek seluruh pekerjaan peserta didik, dan memberikan komentar yang
konstruktif.
4. Mempelajari
catatan peserta didik yang eduquate.
5. Membuat
tugas dan latihan untuk kelompok.
6. Memberikan
kesempatan khusus bagi peserta didik yang memiliki kemampuan yang berbeda.
7. Memberikan
penilaian secara adil dan transparan.
Untuk kepentingan tersebut, guru dituntut untuk memiliki berbagai
kompetensi berikut ini.
1. Menguasai
dan memahami kompetensi dasar dan hubungannya dengan kompetensi lain dengan
baik.
2. Menyukai
apa yang diajarkanya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi.
3. Memahami
pengalaman, kemampuan, dan prestasi peserta didik.
4. Menggunakan
metode yang bervariasi dalam mengajar
dan membentuk kompetensi peserta didik.
5. Mengeliminasi
bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam kaitannya dengan
pembentukan kompetensi.
6. Mengikuti perkembangan pengetahuan mutakhir.
7. Menyiapkan
proses pembelajaran.
8. Mendorong
peserta didik untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
9. Menghubungkan
pengalaman yang lalu dengan kompetensi yang akan dikembangkan.
Singkatnya, guru itu harus siap menjadi fasililator yang demokratis
professional, karena dalam perkembangan informasi, teknologi, dan globalisasi
yang begitu cepat, tidak menutup kemungkinan bahwa dalam hal tertentu peserta
didik lebih pandai atau lebih dulu tahu dari guru. kondisi ini menuntut guru
untuk senantiasa belajar meningkatkan kemampuan, siap dan mampu menjadi
pembelajar sepanjang hayat, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk belajar dari
peserta didiknya.[4]
4. Motivator
Sebagai seorang motivator, seorang guru harus mampui membangkitkkan
semangat dan mengubur kelemahan anak didik bagaimanapun latar belakang hidup
keluarganya, bagaimanapun kelam masa lalunya, dan bagaimanapun berat
tantangannya. tidak ada kata menyerah sampai titik darah penghabisan. Allah
selalu menyayangi hamba-nya yang bersungguh-sungguh di jalan-nya dan berjanji
memberikan jalan kesuksesan. Allah tidak akan mengubah nasibnya sendiri.
Kisah orang sukses bisa menjadi inspirasi murid dalam mengukir cita-cita
hidupnya. guru harus jeli memberikan kisah hidup orang sukses kepada
murid-muridnya, sehingga mereka bangkit dari keterpurukan, keputusasaan
Sebagai seorang motivator, guru adalah psikolog yang diharapkan mampu
menyelami psikology anak didiknya, sehingga mengetahui kondisi lahir batinnya, dan, dari pengetahuan ini, seorang
guru akan mencari motivasi model apa yang cocok bagi anak didiknya.
Ketika anak didiknya mengantuk di dalam kelas, tidak semangat, dan
keletihan menerima pelajaran dari pagi
sampai siang,guru yang cerdas akan mampu membaca situasi ini, ia akan
menyegarkan dulu pikiran anakn didik dengan cerita dan motivasi hidup
orang-orang sukses, setelah itu baru
melanjutkan pelajaran dengan tenang dan energik.
Menurut Omear Hamalik (2008), memotivasi belajar penting artinya dalam
proses belajar siswa, karena berfungsi mendorong, menngerakkan, dan mengarahkan
kegiatan belajar. oleh sebab itu, prinsip-prinsip motivasi belajar sangat erat
kaitannya dengan prinsi-prinsip belajar itu sendiri.
Di bawah ini, akan diuraikan beberapa prinsip dan motivasi belajar supaya
mendapat perhatian dari pihak perencanaan pengajaran, khususnya dalam rangka
merencanakan kegiatan belajar mengajar.
a. Kebermaknaan
Siswa akan suka dan ternotivasi belajar apabila hal-hal yang dipelajari
mengandung makna tertentu baginya. sebenarnya, kebermaknaan bersifat personal,
karena dirasakan sebagai sesuatu yang penting bagi diri seseorang. Ada
kemungkinan Suatu pelajaran yang disajikan oleh guru tidak dirasakan sebagai
sesuatu yang bermakna. Agar suatu pelajaran bisa bermakna, seorang guru bisa
mengaitkan pelajarannya dengan pengalaman masa lampau siswa, tujuan-tujuan masa
mendatang, minat serta nilai-nilai yang berarti bagi mereka.
b. Modelling
Siswa akan suka memperoleh tingkah laku baru bila disaksikan dan
ditirunya. pelajaran akan lebih muda dihayati dan diterapkan oleh siswa jika
guru mengajarkannya dalam bentuk tingkah laku model, bukan hanya dengan
menceritakannya secara lisan. dengan model tingkah laku itu, siswa dapat
mengamati dan menirukan apa yang diinginkan oleh guru.
Beberapa petunjuk yang perlu diperhati kan adalah sebagai berikut.
·
Menetapkan aspek-aspek
penting dari tingkah laku yang akan dipertunjukkan sebagai model. Jelaskan
setiap thap dan keputusan yang akan di tempuh agar mudah di terima oleh siswa.
·
Siswa yang dapat
menirukan model yang telah ditunjukkan, hendaknya diberikan penghargaan.
·
Model hnarus diamati
sebagai suatu pribadi yang lebih tinggi darppada siswa sendiri.
·
Jangan sampai tingkah
laku model berbenturan dengan nilai-nilai atau keyakinan siswa sendiri
·
Modeling disajikan
dalam teknik mengajar atau dalam keterampilan-keterampilan sosial.
c. Komunikasi Terbuka
Siswa lebih suka belajar bila penyajian terstruktur, supaya pesan-pesan
guru terbuka terhadap pengawasan siswa. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh
untuk melaksanakan komunikasi terbuka.
·
Kemukakan tujuan yang
hendak dicapai kepada para siswa agar pendapat perhatian mereka.
·
Tunjukkan
hubungan-hubungan kinci agar siswa benar-benar memahami apa-apa yang sedang
diperbincangkan.
·
Jelaskan pelajaran
secara nyata, usahakan menggunakan media instruksional sehingga lebih
menjelaskan masalah yang sedang dibahas.
d. Prasyarat
Apa yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnyy mungkin merupakan factor
penting yang menentukan berhasil atau gagalnya siswa belajar. Kesempatan
belajar bagi siswa yang telah memiliki informasi dan keterampilan yang
mendasari prilaku yang baru akan lebih besar. Karena itu, guru hendaknya
berusaha mengetahui / mengenali prasyarat-prasyarat yang telah mereka miliki.
Siswa yang berada dalam kelompok yang berprasyarat akan mudah mengamati
hububgan antara pengetahuan yhang sederhana yang telah dimiliki dengan
pengetahuan yang kompleks yang akan dipelajari. berbeda hanya dengan siswa yang
belum memiliki pra syarat yang diperlukan, ternyata lebih sjulit menerima
pelajaran baru dengan kemungkinan timbulnya kegagalan dan frustasi.
Untuk mengenali apakah siswa telah memiliki prasyarat yang dibutuhkan
itu, guru dapat melakukan analisis terhadap tugas, topic, dan tujuan-tujuan
yang dicapai. Kemudian, guru memberikan tes mengenai prasyarat tersebut. Dari
keadaan siswa tersebut itulah, guru akan lebih mudah menyesuaikan pelajarannya
sehingga membangkitkan motifasi belajar yang lebih tinggi dikalangan siswa.
e. Novelty
Siswa lebih senang belajar bila perhatiannya ditarik oleh
penyajian-penyajian yang baru (novelty) atau masih asing
f. Latihan / Praktik yang aktif
dan bermanfaat
Siswa lebih senang belajar jika mengambil bagian yang aktif dalam latihan
atau praktik untuk mencapai tujuan pengajaran. Praktik secara aktif berarti
siswa mengerjakan sendiri, bukan mendenggarkan ceramah dan mencatat pada buku
tulis. Pengajaran hendaknya disesuaikan dengan prinsip ini, dengan cara sebagai
nberikut:
·
Usahakan agar siswa
sebanyak mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memberikan respons
terhadap pertanyaan guru, sedangkan siswa lainnya menulis jawaban-jawaban dan
menanggapinya secara lisan.
·
Mintalah agar siswa
menyusun atau menata kembali informasi yang diperolehnya dari bacaan.
·
Sediakan laboratorium
dan situasi praktik lapangan berdasarkan tujuan pengajaran yang telah
dirumuskan sebelumnya.
Untuk mengaktifkan
siswa mempraktikkan hal-hal yang sedang dipelajarinya, guru dapat menggunakan
macam-macam metode, seperti tanya jawab dan mengecek jawaban
rekan-rekannya,dilanjutkan dengan diskusi, melaksanakan simulasi, dan
melaksanakan metode tutorial.
g. Latihan
Terbagi
Siswa lebih senang belajar jika latihan dibagi-bagu
menjadi sejumblah kurun waktu yang pendek. latihan-latihan secara demikian akan
lebih meningkatkan motivasi siswa belajar dibandingkan dengan latihan yang
dilakukan sekaligus dalam jangka waktu yang panjang. cara yang terakhir ini
akan melelahkan siswa, bahkan mungkin menyebabkan mereka tidak menyenangi
pelajaran, serta mengalami kekeliruan dalam mempraktiknya.
h. Kurangi secara sistematik
paksaan belajar
Pada waktu belajar, siswa perlu diberikan paksaan atau pemompaan. Akan
tetapi, bagi siswa yang sudah mulai menguasai pelajaran, ada baiknya jika
pemompaan itu secara sistematik dikurangi,dan akhirnya lambat laun siswa dapat
belajar sendiri. jangan sampai siswa mau belajar tergantung pada pemompaan
saja. Lagi pula, pemompaan itu
jangan terlalu segera dihilangkan karena
mungkin siswa mendapat kekeliruan. cara itu memang perlu dilaksanakan dalam
rangka meningkatkan motivasi belajar siswa.
i. Kondisi Yang Menyenangkan
siswa lebih senang melanjutkan belajarnya jika kondisi pengajaran
menyenangkan. dengan demikian,guru dapat melakukan cara-cara berikut:
·
Usahakan jangan
mengulangi hal-hal yang telah mereka ketahui, karena akan menyebabkan
kejenuhan.
·
Suasana fisik kelas
jangan sampai membosankan.
·
Hindarkan terjadinya
frustasi dikarenakan situasi kelas yang tak menentuatau mengajukan permintaan
yang tak masuk akal, dan di luar jangkauan pikiran manusia.
·
Hindarkan suasana kelas
yang bersifat emosional sebagai akibat adanya kontak personal.
Untuk
menciptakan kondisi yang menyenangkan, seorang guru dapat melakukan cara-cara
berikut.
·
Siapkan tugas-tugas
yang menantang selama diselenggarakan latihan.
·
Berilah siswa
pengetahuan tentang khasil-hasil yang telah dicapai oleh masing-masing siswa.
5.
Administrator
Sebagai seorang guru, tugas administrasi sudah melekat dalam dirinya, dari mulai melamar menjadi guru,
.kemudian diterima dengan bukti surat Keputusan yayasan, surat instruksi kepala
Sekolah, dan lain-lain. Urusan yang ada diklingkup pendidikan formal biasanya
memakai prosedur administerasi yang rapid an tertip.
Dalam mengajar, guru harus meng absen terlebih dahulu, mengisi jurnal kelas
yang lengkap, mulai dari nama, materi yang disampaikan, kondisi siswa, dan
tanda tangan. Dia juga harus membuat laporan berkala sesuai dengan system
administrasi sekolah.
Pada waktu ujian, ia harus membuat soal ujian, mengawasi, mengkoreksi,
memberikan nilai rapor kepada wali kelas dan lain sebagainya. Pada waktu ujian
Negara, mungkin ia ditugaskan kelembaga lain untuk mengawasi dengan
syarat-syarat khusus. Selain itu, guru harus mempunyai buku catatan, sehingga tidak lupa masalah yang
ditemuinya didalam kelas, misalnya anak yang bolos, anak yang mempunyai
kemampuan di bawah standar, salinan absensi siswa pada waktu pelajarannya, dan
hal-hal lain yang berhubungan dengan tugas mendidiknya. semua tugas
administrasi ini harus di lakukan dengan baik dan professional. Jangan sampai
mengecewakan, karena akan di nilai dan diamati orang lain. Khususnya Kepala
Sekolah dan Yayasan.
6. Evaluator
Sebaik apapun kwalitas pembelajaran, pasti ada kelemahan yang perlu
dibenahi dan disempurnakan. Disinilah pentingnya evaluasi seorang guru. Dalam
evaluasi ini guru kbisa memakai banyak cara, dengan merenungkan sendiri proses
pembelajaran yang diterapkan, meneliti kelemahan dan kelebihan, atau dengan
cara yang lebih objektif meminta pendapat orang lain, misalnya Kepala Sekolah\,
guru yang lain dan murid-muridnya. Khusus untuk para murid, guru bisa
menggunakan metode lisan, namun lebih objektif bila menggunakan tulisan dengan
menggunakan Quessioner Berupa pertanyaan-pertanyaan kritis dalam lembar khusus
yang berisi masukan bebas dengan tanpa identitas nama muridnya, sehingga mereka tidak
terbebani dengan apa yang akan ditulisnya.
Disinilah diperlukan jiwa besar guru dal;am menerima masukan dan kritik
dari murid-muridnya, tidak emosional. Justru semua masukan itu harus dijadikan media
evaluasi untuk pembenahan diri karena tidak ada orang yang sempurna, maka pasti
ada kelemahan dan kekurangan. dalam bahasa agama, disinilah pentingnya, Tawaashau bil haqqi wa tawaashau bisshobri,
saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Dengan evaluasi ini, guru diharapkan lebih baik dalam segala hal,
kapasitas intelektualnya, integritas kepribadiannya, pendekatan metodelogi
pengajarannya yang lebih segar, progresif, actual, dan performance yang lebih
menarik dan energic.
D. Tanggung jawab Guru
Dalam melakukan fungsi dan tugas
mulianya diatas, seorang guru harus melandasinya dengan tanggung jawab
yang besar dalam dirinya, tnggungjaeab yang tidak didasari oleh kebutuhan
financial belaka, tapi tanggung jawab peradaban yang besar bagi kemajuan negeri
tercinta, Indonesia, ia juga harus sadar bahwa kesuksesannya menjadi harga mati
bagi lahirnya kader kader bangsa yang berkualitas. Oleh karena itu, ia all out
harus menekuni profesinya dengan penuh kesungguhan dan kerja keras.
Ia harus mengembangkan ilmunya terus menerus untuk memberikan yang
terbaik kepada murid-muridnya, agar semangat mereka terbakar untuk menjadi
actor pengubah sejarah bangsa. Tanggungjawab lahir batin ini harus muncul dari
kesadaran atas sucinya mengemban amanah agama, masyarakat, bangsa.
Keberhasilannya ditunggu jutaan rakya tindonesia yang menginginkan perubahan
kearah yang lebih cerah di masa depan.
Tidak ada jalan lain, pendidikan menjadi investasi paling strategis
dimasa depan. Pendidikan lah yang diharapkan mengubah bangsa yang berkembang
ini menjadi bangsa maju dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir
sebagaimana jepank, alerika, prancis, inggris, dan Negara-negara maju lainnya.
Menurut Amich Al-Humami (2008) sejarah klemajuan bangsa-bangsa di Dunia
adalah sejarah tentang keunggulan sebuah peradaban yang unsure paling
elementernya, antara lain adalah, sains teknologi. Pencapaian sains teknologi
sangat tergantung pada daya dukung kelembagaan utamanya perguruan tinggi dan
lembaga riset Perguruan Tinggi dan lembaga riset merupakan bagian dari
infrastruktur paling penting dalam proses pengembangan sains teknologi
dinegara-negara maju di eropa dan Amerika.
Kedua institusi tersebut menempati posisi strategis karena berdampak
sangat luas dan berjangka panjang terhadap kemajuan bangsa. bahkan, kemajuan
ekonomi suatu Negara dalam banyak hal, bergantung pada perguruan tinggi dan
lembaga riset sebagai pelopor pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi
teknologi, yang member konstribusi pada pertumbhuan ekonomi suatu Negara.
Menyadari aspek ini, sejak beberapa decade yang lalu, Negara-negara asia
mencoba mengadaptasi trasisi pengembangan ilmu pengetahuan di Negara-negara
barat dengan cara memperkuat perguruan tinggi dan lembaga Reserch and development ( R&D) disinilah pentingnya sains dan
teknologi dari sain teknologi inilah, aka nada inovasi teknologi dan
modernisasi industry dan lembaga pendidikan menuju satu era global yang sangat
menantang dan kompetitif.
Menurut Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed. 2008 Sain dan teknologi di satu sisi memang
mengakibatkan dampak negative, bahkan menghancurkan kehidupan. tetapi disisi
lain, sain dan teknologi juga dapat membangun kehidupan yang maju, modern, dan
juga beradab sampai sekarang, teknologi masih dikuasai barat sehingga beratlah yang sekarang menggenggam
dunia dengan inofasi dahsyat disegala
aspek kehidupan. Bangsa timur lemah dan tak mampu berbuat apa-apa. Sejarah umat
manusia ditentukan barat. Inilah yang harus segera di akhiri dengan lahirnya
kader-kader muda melek ilmu pengetahuan dan teknologi inofatif yang melahirkan
karya-karya baru yang monumental. Apa yang sudah dirintis dan dipersembahkan
Bj. Habibie harus diteruskan oleh kader-kasder muda lem baga pendidikan
bertanggung jawab melahirkan kader-kader muda andal ini
Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed. 2008 mengatakan, system pendidikan nasional
bercita-cita menghasilkan alumni clock builders, yaitu sarjan dan cendikiawan
membuat sejarah baru bagi Indonesia sehingga mampu hidup terhormat dalam tata
kehidupan internasional yang maju dan berkeadaban. Bukan time teller yaitu
tukang cerita yang hanya mampu menceritakan kembali apa yang telah dipelajari.
konsep system pendidikan nasional berambisi menjadikan pendidikan nasional
berambisi menjadikan pendidikan Indonesia mampu berbicara dan menjawab berbagai
masalah dan musibah nasional.
Lagi-lagi dalam konteks ini, sentuhan tangan dingin gurulah yang sangat
dinanti, sehingga sukses melahirkan kader-kader mengubah sejarah baru bagi
Indonesia masa depan. Inilah tanggung jawab besar guru yang menjadi dasar aktualisasinya
di dunia pendidikan. Kalau hanya demi mengejar kebutuhan financial, maka
seorang guru akan sulit melahirkan kader pengubah sejarah yang membutuhkan
kerja keras, pengorbanan, dan perjuangan besar. Kalau semua diukur dengan
materi, maka orientasi keilmuan dan masa depan bangsa menjadi kabur. Lepas dari
persoalan financial yang menjadi kebutuhan setiap manusia ketulusan guru dalam
mendidik dan mengantarkan anak didik menggapai cita-cita luhur adalah karya
terbesarnya yang akan diabadikan sejarah.
E. Memahami Peranan Guru Pembina Moral
Pendidik dilembaga pendidikan persekolahan disebut
dengan guru, yang meliputi guru madrasah atau sekolah sejak dari taman
kanak-kanak, sekolah menengah, dan sampai ke dosen- dosen di perguiruan tinggi,
kiyai di pondok persantren, dan lain sebagainya. namun guru bukan hanya
menerima amanat dari orang tua untuk mendidik, melainkan juga dari setiap orang
yang memerlukan bantuan untuk mendidiknya.
Pada masa sekarang, orang tua dalam keluarga sebagai
pendidik utama mulai kehilangan eksistensinya. hal tersebut dikarenakan
kehidupan yang semakin menuntut kerja keras guna memenuhi tanggung jawab
sosiologis. sehingga kesempatan orang
tua untuk mengajar anak-anaknya semakin
berkurang. sebagai jalan alternatifnya pendidikan anak yang semula dibebankan secara utuh dalam keluarga
sekarang dialihkan kesekolah-sekolah formal. orang yang mengajar di sekolah
tersebut disebut dengan guru. guru adalah pekerjaan profesional yang secara
khusus disiapkan untuk mendidik
anak-anak yang diamanatkan orang tua untuk dapat mendidik anakya disekolah.[6]
Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru.
gurulah yang berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya
manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik di kelas melalui
proses belajar mengajar.
Di tangan gurulah akan diahasilkan peserta didik yang berkualitas baik
secara akademis, skill (keahlian),
kematangan emosional dan moral serta spiritual. dengan demikian akan dihasilkan
generasi masa depan yang siap hidup dengan tantangan zamanya.
Guru adalah salah satu diantara faktor pendidikan yang
memiliki peranan yang paling setrategis sebab gurulah sebetulnya pemain” yang
paling menentukan didalam terjadinya proses belajar mengajar.guru sebagaimana
dijelaskan Addari nawawi adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan
pelajaran disekolah atau kelas. [7]
Didalam kamus bahasa Indonesia peran adalah perangkat
tengkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam
masyarakat.[8] Ketika
pengertian peran di hubungkan dengan guru maka akan didapatkan rumusan peran
guru, yaitu keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai
guru.[9]
Adapun devinisi peran guru menurut Moh. uzer usman
adalah serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam
suatu situasi tertentu untuk serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan
perkembangan siswa yang menjadi
tujuannya. [10]
Peranan yang dimaksud dalam ini adalah tugas utama yang harus dilakukan guru
pendidikan agama islam dalam situasi pendidikan. dalam pelaksanaannya guru
pendidikan agama islam dituntut untuk mampu membina seluruh kemampuan dan sikap
siswa sesuai dengan ajaran islam baik di
dalam maupun di luar kelas, sehingga kelak anak akan melaksanakan.
Sedangkan kewajiban guru menurut Imam Al ghozali
adalah:
a. Harus
menaruh rasa kasih sayang terhadap murid
dan memperlakukan mereka seperti perlakuan anak sendiri.
b. Tidak
menharapkan balas jasa ataupun ucapan tetapi dengan mengajar itu mencari
keridhoan dan mendekatkan diri kepada
allah.
c. berikanlah
nasehat kepada murid pada tiap kesempatan bahkan gunakanlah setiap kesempatan
untuk menasehati dan menunjukinya.
d. mencegah
murid dari sesuatu ahlak yang tidak baik dengan jalan sendirian jika mungkin
dan jangan dengan cara terus terang, dengan jalan halus dan jangan mencela.
e. Supaya
diperhatikan tingkat akal pemikiran anak-anak dan berbicara dengan mereka
menurut kadar akalnya dan jangan disampaikan sesuatu yang melebihi tingkat tangkapanya,
agar ia tidak lari dari pelajaran, bicaralah dengan cara mereka.
f. Jangan
ditimbulkan rasa benci pada murid mengenai sesuatu cabang ilmu yang lain,
tetapi seyogyanya dibukakan jalan bagi mereka untuk belajar cabang ilmu
tersebut.
F. Macam-Macam Peranan Guru Pembina Moral
Menurut Yelon dan Weinstein yang dikutip oleh Enco
mulyasa, menyatakan bahwa peran guru dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
a. Guru
sebagai pendidik; guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang
mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.
b. guru
sebagai penajar; membuat ilustrasi, mengidentifikasikan, menganalisis,
mensintesis, bertanya, merespon, mendengarkan, menciptakan kepercayaan,
memberikan pandangan yang berfariasi, menyediakan media untuk mengkaji meteri
stendar, menyesuaikan metode pembelajaran, dan memberikan nada perasaan.
c. Guru
sebagai pembimbing; guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu
perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk
perjalanan, serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
peserta didik.
d. Guru
sebagai pelatih; guru memprhatikan kompetensi dasar dan materi standar, mampu
memperhatikan perbedaan individu peserta didik dan lingkungannya, berani
berkata jujur dan harus bisa menahan emosi.
e. Guru
sebagai penasehat; guru harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan
mental.
f. Guru
sebagai model teladan; menjadi teladan merupakan sifat dasar kegiatan
pembelajaran dan ketika seorang guru tidak mau menerima ataupun menggunakannya
secara konstruktif maka telah mengurangi keefektifan pembelajaran.
g. Guru
sebagai pendorong kreatifitas; guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan
menunjukkan proses kreatifitas tersebut, dan guru senantiasa berusha untuk
menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didiknya, sehingga
peserta didik akan menilainya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan
sesuatu secara rutin saja
h. Guru
sebagai pembangkit pandangan; guru harus terampil dalam berkoomunikasi dengan
peserta didik disegala umur sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang
dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
i. Guru
sebagai bekerja rutin; bekerja tepat waktu, membuat catatan dan laporan sesuai
dengan standar kinerja, mambaca dan mengefaluasi serta mengembalikan hasil
kerja peserta didik, mengatur kehadiran peserta didik, mengatur jadwal,
mengatur iklim sekolah yang kondusif dan menasekati peserta didik.
j. Guru
sebagai efaluator; guru harus menyusun table spesifikasi yang didalamnya
tersapat sasaran penilaian, teknik penilaian, serta jumlah instumen yang
diperlukan, penelitian terhadap data-data yang dikumpulkan, dan dianalisis
untuk membuat tafsiran tentang kwalitas prestasi belajar peserta didik.
Menurut Moh. Uzer Usman. Mengemukakan peranan guru antara lain:
a. Peranan
guru sebagai pengajar. Yaitu: 1) Guru sebagai demonstrator: guru hendaknya
senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta
senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuan ilmu yang
dimilikinya karena sangat mentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa; 2)
guru sebagai pengelola kelas: guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai
lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di
organisasikan karena kwantitas dan kwalitas belajar siswa didalam kelas
bergantung kepada banyak factor, seperti guru, hubungan pribadi antar siswa
didalam kelas, 3) guru sebagai mediator dan fasilitator: guru hendaknya mamiliki
pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media
pendidiakan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar
mengajar; 4) Guru sebagai evaluator: guru hendaknya senantiasa mengevaluasi
kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui apakah
tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang
diajarkan sudah cukup tepat.[12]
b. Peranguru
dalam pengadministrasian, yaitu: 1) pengambilan inisiatif, pengarah, dan
penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan; 2) wakil masyarakat, yang berarti dalam
lingkunghan sekolah guru menjadi anggota suatu masyarakat dan mencerminkan
suasana kemauan masyarakat;
3) orang yang
ahli dalam mata pelajaran bertanggung jawab untuk mewariskan kebudayaan kepada
generasi muda yang berupa pengetahuan; 4) penegak disiplin, 5) pelaksanaan
administrasi pendidikan; 6) pemimpin generasi muda;7) penerjemah kepada
masyarakat, artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan
kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah pendidikan.
c. Peran
guru sebagai pribadi, yaitu: 1) petugas sosial, seorang yang harus membantu
untuk kepentingan masyarakat; 2) pelajar dan ilmuan, senantiasa terus menerus
menuntut ilmu pengetahuan; 3) orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di
sekolah dalam pendidikan sesudak
keluarga, sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga, guru berperan
sebagai orang tua bagi siswa siswinya; 4) pencari teladan, yaitu senantiasa
mencari teladan yang baik untuk siswa bukan untuk seluruh masyarakat, guru
menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku; 5) pencari keamanan, yaitu yang
senantiasa mencari rasa aman bagi siswa, menjadi tempat berlindung bagi siswa
untuk memperoleh rasa aman.
d. Peran
guru sebagai psikologis yaitu: 1) ahli psikologi pendidikan; 2) seniman dalam
hubungan antar manusai untuk tujuan tertentu khususnya dalam pendidikan; 3)
pembentuk kelompok sebagai jalan atau alat dalam pendidikan; 4) catalytic
agent, yaitu orang yang mempunyai pengaruh dalam menimbulkan pembaharuan; 5)
petugas kesehatan mental yang bertanggung jawab terhadap pembinaan kesehatan
mental siswa.
Menurut Al-Ghazali, peranan guru dalam membina akhalaqul karimah peserta
didik dapat dilakukan dengan:
a. Guru
berperan sebagai pelatih; budi pekerti yang baik dan akhlaq-akhlaq yang luhur
itu memang dapat dicapai dengan jalan melatih diri yakni mula-mula sekali
dengan memaksa jiwa untuk berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan budi dan
akhlaq yang baik tadi, sehingga akhirnya akan merupakan waktu tabi’at sehari-hari.
b. Guru
berperan sebagai perkondisian lingkungan
islami; ini dapat dipahami dari ucapan Al-Ghazali, “akhlaq yang luhur itu dapat
diperoleh,kadang-kadang memang sudah merupakan watak aslinya dan kadang-kadang
dengan jalan latihan dengan membiasakan melakukan itu, maka kadang-kadang ada
juga yang dapat diperoleh dengan jalan pergaulan yaitu dengan menyaksikan dan
mengawani orang-orang yang memiliki budi pekerti yang luhur.
c. Guru
sebagai penasehat; dalam pembinaan akhlaq guru harus tanggap terhadap akhlaq
siswa. sehingga guru itu memberitahukan padanya apa yang menjadi aib muridnya
itu dan memberitahukan kepadanya bagaimana cara-cara menyembuhkannya. [13]
Adapun peran atau tugas guru menurut sardiman A.M dan Moh. Uzer Usman
adalah sebagai berikut:
a. Guru
sebagai pengajar
Mengajar adalah Menyampaikan ilmu pengetahuan kepada
peserta didik. jadi dalam hal ini hanya
menekankan segi pengetahuan. Dengan demikian guru dikatakan berhasil dalam
perannya sebagai pengajar bila peserta didiknya telah menguasai materi atau
bahan pelajaran yang sudah diajarkan oleh guru.
Dapat kita lihat dalam kenyataan sehari-hari bahwa
kriteria keberhasilan guru dalam proses pembelajaranm dapat dilihat dari nilai
atau hasil yang dicapai oleh peserta didik. Mengajar adalah transfer of knowledge,
artinya guru hanya menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada siswa dan
kurang memperhatikansegi sikap dan tingkah lakun anak. sehingga guru disifati
sebagai seorang yang hanya lebih tinggi ilmu pengatahuan saja. Eksistensi guru
hanya akan dihormati siswanya ketika mengajar di sekolah sedangkan diluar
sekolah sebagai manusia pada umumnya.
Dalam menjalankan perannya sebagai pengajar, hal-hal
yang harus dilakukan guru adalah: pertama, mampu menyusun program pengajaran
selama kurun waktu tertentu secara berkelanjutan. Kedua, membuat persiapan
mengajar dan rencana kegiatan belajar mengajar untuk tiap bahan kajian yang
akan diajarkan berkaitan dengan penggunaan metode tertentu. Ketiga, menyiapkan
alat peraga yang dapat membantu terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang
efektif.
Keempat, merencanakan dan menyiapkan alat evaluasi belajar dengan tepat.
Kelima, menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran yang merupakan
program sekolah. Misalnya program pengajaran perbaikan dan pengayaan serta
ekstra kurikuler. Keenam, mengatur ruangan kelas yang kondusif bagi proses
belajar mengajar. Ketujuh, mengatur tempat duduk siswa dengan kemampuan dan
kondisi fisik serta daya tangkap siswa terhadap pelajaran.[14]
Jika peranan guru berkenaan dengan perangkat tingkah
laku dalam menjalankan tugasnya, maka tugas utama seorang guru sebagai pengajar
adalah membantu perkembangan intelektual, efektif dan psikomotor.[15]
b. Guru sebagai
pendidik
Tugas mendidik lebih berat di bandingkan dengan
mengajar. Dalam mengajar guru hanya memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa,
sedangkan mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan
nilai nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peranan guru sebagai fasilitator harus mampu
memberikan kemudahan dalam situasi pendidikan yang serasi sesuai dengan
perkembangan siswa. dengan demikian pribadi guru itu sendiri merupakan
perwujudan nilai-nilai yang akan di transfer. Sehingga guru tidak hanya
berperan sebagai pengajar tetapi juga pendidik. Ia bukan saja pembawa ilmu
pengetahuan akan tetapi juga menjadi contoh yang baik (uswatun hasanah) bagi
peserta didiknya.[16]
Keteladanan dalam proses pendidikan akhlaq merupakan
metode yang sangat tepat untuk membina akhlaq mulia seorang anak. Dalam
pelaksanaan pendidikan akhlaq, siapapun yang menjadi pendidik harus memberikan
contoh yang baik untuk diikuti/diteladani oleh siswa. Akhlaq guru sangat
penting dan menentukan dalam pendidikan akhlaq anak didik. Tidak mungkin
mendidik siswa menjadi manusia yang berakhlak mulia kalau gurunya tidak
memiliki qkhlaq yang baik sebab dia adalah teladan bagi siswanya, sebagaimana
Rosulullah SAW menjadi teladan bagi umatnya.
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
Artinya: “ Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri taulaan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]:
21)
Ahmad Tafsir menyatakan bahwa, murid-murid cenderung
meneladani pendidikan karena secara psikologis manusia memang mempunyai sifat
bawaan yang senang meniru.[17]
Sejalan dengan itu An-Nahlawi mengemukakan bahwa,
setiap anak didik akan meneladani pendidikannya dan benar-benar puas terhadap
ajaran yang diberikan kepadanya, sehingga perilaku ideal yang diharapkan dari
setiap anak merupakan tuntutan realitas dan dapat diaplikasikan. Keteladanan
ini menunjukkan pada kekaguman yang negative, akan tetapi adalah agar manusia
merupakan suri taulaadn itu pada dirinya sendiri. [18]
Menurut Al-Gazali, tugas pendidik yang uitama adalah
menyempurnakan, membersihkan, menyucikan serta membawakan hati manusia untuk
mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Hal tersebut karena pendidikan
islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepadanya. Jika pendidik
belum mampu membiasakan diri dalam peribadatan pada pesert didiknya, maka ia
mengalami kegagalan dalam tugasnya, sekalipun peserta didiknaya memiliki
prestasi akademis yang luar biasa. Ini mengandung arti keterkaitan antara ilmu
dan amal saleh. [19]
Sejalan dengan ini, Abdul Rahman Al- Nahlawi
menyebutkan tugas pendidik meliputi: Pertama, tugas menyucikan, yakni berfungsi
sebagai pembersih, pemelihara, dan pengembah fitrah manusia. kedua, tugas
pengajaran yakni mentrasformasikan pengetahuan dan menginternalisasikan
nilai-nilai agama kepada manusia. [20]
c. Guru Sebagai
Pembimbing
Dalam proses pendidikan, kegiatan mengajar, mendidik
dan membimbing tidak dapat dipisahkan.
Dalam pembinaan akhlak mulia siswa, tidak saja terdapat dalam proses
pembelajaran didalam kelasnya akan tetapi ada pada kegiatan diluar kelas, yang
disebut dengan bimbingan (Guiddance). Kata Guidance mempunyai hubungan dengan “Guiding”:
showing a way (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conducting (menuntun),
guiring introduction (memberikan petunjuk), Regulating (mengatur), governing
(mengarahkan) Giving advice (memberikan nasehat). [21]
Membimbing adalah kegiatan menuntun anak didik dalam
perkembangannya dengan jalan memberikan lingkungan dan arah yang sesuai dengan
tujuan pendidikan. Karena itu guru harus berlaku membimbing yaitu menuntun dan
menggerakkan anak kearah perkembangan yang baik sesuai dengan yang di
cita-citakan sehingga akan tercapai tingkat kemandirian dalam diri anak didik. [22]
Bimbingan akhlaq merupakan upaya guru yang menitik
beratnya pada aspek afektif yang cukup unik karena abstrak labil konstektual
dan developmental yang memproses mulai dari perhatian diikuti dengan
mengucapkan, menghayati lalu menata prilaku akhirnya menjadi watak atau
mempribadi. Zakiah Darajat mengatakan bahwa, guru harus memperhatikan
perkembangan suasana diluar sekolah dan bersama orang tua mengawasi pergaulan
anak jangan sampai bergaul dengan anak yang kurang baik. [23]
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa bimbingan
adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada seseorang agar mengembangkan
potensi-potensi yang dimiliki, mengenali dirinya sendiri, dapat mengatasi
persoalan-persoalan sehingga mereka dapat menentukan sendiri jalan hidupnya
seccara bertanggung jawab tanpa tergantung kepada orang lain untuk menjadi
manusia yang berakhlak yang mulia.
d. Guru Sebagai
Pelatih
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pelatih adalah
orang mengajar seseorang agar terbiasa melakukan sesuatu atau membiasakan diri.
Kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentuyang
dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk
hal yang sama. [24]
Dalam proses pendidikan seorang guru disampingh
menanamkan aspek kognitif dan aspek afektif dalam diri anak, maka guru dituntut
perlu mengembangkan aspek psikomotor atau keterampilan. karena itu guru dalam
menjalankan tugasnya sebagai pelatih bertujuan untuk mencapai tingkat terampil
dalam diri anak didik. [25]
Zakiah Daradjat mengatakan, bahwa untuk membimbing
anak agar mempunyai sifat terpuji tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian
saja, namun perlu latihan untuk membiasakannya melakukan yang baik, karena
dengan latihan dan pembiasaan itu cenderung membuat ia melakukan yang baik dan
meninggalkan yang tidak baik untuk itu hendaknya semuia pendidik menyadari
betul bahwa dalam membina siswa menjadi manusia yang berakhlaq manusia sangat
diperlukan latihan-latihan untuk pembiasaan yang cocok dan sesuai denga perkembangan
jiwa siswa. [26]
G. Ciri-ciri dan Sifat Guru yang Baik
Pembina Moral
Departemen pendidikan Amerika serikat menggambarkan bahwa guru yang baik
adalah sebagai berikut:
1. Guru
yang baik adalah guru yang waspada secar professional. Ia terus berusaha untuk menjadikan
masyarakat sekolah menjadi tempat yang paling baik bagi anak-anak muda ;
2. Mereka
yakin akan nilai untuk manfaat pekerjaanya. Mereka tetap berusaha memperbaiki
dan meningkatkan mutu pekerjaannya;
3. Mereka
tidak lekas tersinggung oleh larangan-larangan dalam hubungannya dengan
kebebasan pribadi yang dikemukakan oleh beberapa orang untuk menggambarkan
profesi keguruan. Mereka secara pisikologis lebih matang sehingga
rangsangan-rangsangan gterhadap dirinya dapat ditaksir;
4. Mereka
memiliki seni dalam hubungan- hubungan manusiawi yang diperolehnya dari
pengamatannya tentang bekerjanya psikologi, biologi, antropologi kulturan
didalam kelas;
5. Mereka
berkeinginan untuk terus tumbuh mereka sadar bahwa dibawah pengaruhnya,
sumber-sumber manusia dapat berubah nasibnya. [27]
Al-Gazali
menyusun sifat-sifat yang harus dimiliki guru adalah:
1. Guru
hendaknya memandang murid seperti anaknya sendiri, menyayangi dan memperlakukan
mereka seperti layaknya anak sendiri.
2. Dalam
menjalankan tugasnya, guru hendaknya tidak mengharapkan upah atau pujian,
tetapi hendaknya mengharapkan keridhaan Allah dan berorientasi mendekatkan diri
kepadanya.
3. Guru
hendaknya memanfaatkan setiap peluang untuk memberi nasehat dan bimbingan
kepada murid bahwa tujuan menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah,
bukan memperoleh kedudukan dan kebanggaan duniawi.
4. Terhadap
murid yang bertingkah laku buruk, hendaknya guru menegurnya sebisa mungkin
dengan cara menyindir dan penuh kasih sayang, bukan membuat murid berani
membangkang dan sengaja terus menerus bertingkah laku buruk.
5. Hendaknya
guru tidak fanatic terhadap bidang studi yang diasuhnya, lalu mencela bidang
studi yang diasuh guru lain. Hendaknya ia mendorong murid agar mencintai semua
bidang studi yang diasuh guru-guru lain.
6. Hendaknya
guru memperhatikan fase perkembangan berpikir murid agar dapat menyampaikan
ilmu sesuai dengan kemampuan berpikir murid. Hendaknya ia tidak menyampaikan
ilmu diatas kemampuan berpikir dan diluar jangkauan pemahaman murid. Hal
seperti ini ibisa terjadi pada guru yang sombong yang merasa berpengetahuan
luas, sehingga menyamp[aikan semua ilmu yang diketahuinya tanpa memperhatikan
manfaatnya.
7. Hendaknya
guru memperhatikan murid yang lemah dengan memberinya pelajaran yang mudah dan
tidak menghantuinya dengan hal-hal yang serba sulit dan dapat menghilangkan
kecintaan terhadap pelajaran.
8. Hendaknya
guru mengamalkan ilmu, dan tidak sebaliknya perbuatannya bertentangan dengan
ilmu yang diajarkannya kepada murid.[28]
Menurut Abdurrahman Al-Nahlawy, bahwa sifat-sifat guru muslim adalah sebagai
berikut:
1. Hendaknya
tujuan, tingkah laku dan pola pikir guru bersifat Rabbani;
2. Ikhlas,
yakni bermaksud mendapatkan keridhaan Allah, mancapai dan menegakkan kebenaran;
3. Sabar
dalam mengajarkan berbagai ilmu kepada peserta didik;
4. Jujur
dalam menyampaikan apa yang diserukannya, dalam arti menyerukan anjurannya
pertama-tama pada dirinya sendiri karena kalau ilmu ada amal sejalan maka
peserta didik akan mudah meneladaninya dalam setiap perkataan dan perbuatannya;
5. Senantiasa
membekali diri dengan ilmu dan bersedia mengkaji dan mengembangkannya;
6. Mampu
mengembangkan berbagai metode mengajar secara bervariasi, menguasainya dengan
baik, mampu menentukan dan memilih metode mengajar yang sesuai dengan materi
pelajaran dan situasi belajar mengajar;
7. Mampu
mengelola peserta didik, tegas dalam bertindak, dan meletakkan segala masalah
secara proporsional;
8. Mempelajari
kehidupan psikis peserta didik selaras dengan masa perkembangannya;
9. Tanggap
terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa keyakinan
dan pola berpikir peserta didik, memahami problem kehidupan modern bagaimana
cara islam mengatasi dan mengadapinnya;
Menurut M. Athiyah Al-Abrdsyi,bahwa sifat-sifat yang harus di miliki oleh
guru adalah:
1. Bersikap
zuhud, dan mengajar hanya karena mencari keridhaan Allah;
2. Bersih
atau suci,dalam arti bersih jasmani dan anngota badannya, jauh dari dosa, suci
jiwanya, bebas dari dosa besar, riya’, hasad, permusuhan, perselisihan dan
sifat-sifat tercela lainnya;
3. Iklas
dalam bekerja, dalam arti mengamalkan apa yang diucapkan, antara perbuatan dan
ucapan, tidak merasa malu untuk mengatakan “ saya tidak tahu, jika ia tidak
tahu”, merasa butuh untuk menambah ilmu, dan tidak segan-segan untuk menggali
ilmu dari peserta didiknya;
4. Pemaaf,
yakni pemaaf terhadap peserta didik, mampu menahan diri, menahan amarah, lapang
dada, sabar dan tidak mudah marah karena sebab-sebab sepele;
5. Menjaga
harga diri dan kehormatan;
6. Mencintai
peserta didik sebagaimana cintanya kepada anak sendiri dan memikirkan keadaan
mereka senagaimana memikirkan anaknya sendiri;
7. Memahami
tabiat, minat, kebiasaan, perasaaan dan kemampuan peserta didik;
8. Menguasai
bidang yang diajarkan, serta senantiasa mendalaminya agar pengajarannya tidak
dangkal.[30]
Sifat atau karakteristik guru-guru yang disenangi oleh para siswa adalah:
1. Guru
yang demokratis, yakni guru yang memberikan kebebasan kepada anak disamping
mendengarkan pembatasan-pembatasan tertentu, tidak bersifat otoriter, dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan serta dalam berbagai
kegiatan;
2. Suka
berkerjasama, yakni guru yang bersikap saling member dan saling menerima serta
dilandasi olehkekeluargaan dan toleransi yang tinggi;
3. Baik
hati, yakni suka memberi dan berkorban untuk anak didiknya;
4. Sabar,
yakni guru yang tidak suka marahdan lekas tersinggung serta suka menahan diri;
5. Adil,
yakni tidak membeda-bedakan anak didik dan memberi anak didik sesuai dengan
kesempatan yang sama bagi semuanya;
6. Konsisten,
selalu berkata dan bertindak sama sesuai dengan ucapannya;
7. Bersifat
terbuka, yakni bersedia menerima kritik dan saran serta mengakui kekurangan dan
kelemahannya;
8. Suka
menolong, yakni siap membantu anak-anak yang mengalami kesulitan atau masalah
tertentu;
9. Ramah-tamah,
yakni mudah bergaul dan disenangi oleh semua orang, tidak sombong dan bersedia,
bertindak sebagai pendengar yang baik disamping sebagai pembicara yang menarik;
10. Suka
humor, yakni pandai membuat anak-anak menjadi gembira dan tidak tegang atau
terlalu serius;
11. Memiliki
bermacam ragam minat, artinya dengan bermacam minat akan merangsang siswa dan
dapat melayani berbagai minat anak;
12. Menguasai
bahan pelajaran, yakni dapat menyampaikan materi pelajaran dengan lancer dan
menumbuhkan semangat di kalangan anak;
13. Fleksibel,
yakni tidak kaku dalam bersikap dan berbuat serta pandai menyesuaikan diri
dengan lingkungannya;
H. Kode Etik Guru Pembina Moral
Al-kanani mengemukakan, bahwa kode etik seorang pendidik meliputi:
pertama, kode etik pendidik berhubungan dengan dirinya sendiri, yaitu:
1. Pendidik
hendaknya senantiasa insyaf akan pengawasan Allah terhadapnya dalam segala
perkataan dan perbuatan bahwa ia memegang amanat ilmiah yang diberikan Allah
kepadannya. karenanya iatidak menghianati amanat itu, malah ia tunduk dan
merandahkan diri kepada Allah Swt.
2. Pendidik
hendaknya memelihara kemul;iaan ilmu. salah satu bentuk pemeliharaannya adalah
tidak mengajarkannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya,yaitu
orang-orang yang menuntut ilmu untuk keppentingan dunia semata.
3. Pendidik
hendaknya bersifat zuhud. Artinya ia mengambil dari rizki dunia hanya untuk
sekedar memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya secara sederhana. ia
hendaknya tidak tamak terhadap kesenangan dunia, sebab sebagai orang yang
berilmu, ia lebih tahu ketimbang orang awam bahwa kesenangan itu tidak abadi.
4. Pendidik
hendaknya tidak berorientasi duniawi dengan menjadikan ilmunya sebagai alat
untuk mencapai kedudukan, harta, prestise atau kebanggaan atas orang lain.
5. Pendidik
hendaknyyya menjauhi mata pencaharian yang hina dalam pandangan syara’ dan
menjauhi situasi yang bisa mendatangkan fitnah dan tidak melakukan sesuatu yang
dapatn menjatuhkan harga dirinya dimata orang banyak.
Hal
ini secara jelas diungkapkan Allah melalui firman-nya:
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=à2 `ÏB ÏM»t6ÍhsÛ $tB öNä3»oYø%yu (#rãä3ô©$#ur ¬! bÎ) óOçFZà2 çn$Î) crßç7÷ès? ÇÊÐËÈ
Artinya:’’ Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezki yang
baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar kepada-Nya kamu menyembah ‘.(QS.Al-Baqarah 172 ).
6. Pendidik
hendaknya memrlihara syiar-syiar islam, seperti melaksanakan shalat berjama’ah
di masjid, mengucapkan salam, serta menjalankan amal ma’ruf nahi munkar. dalam
melakukan semua itu hendaknya seorang pendidik bersabar dan tegar dalam
menghadapi celaan dan cobaan. firman Allah SWT:
$ygr'¯»t z`Ï%©!$# (#qãZtB#uä (#qãYÏètGó$# Îö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB tûïÎÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÌÈ
Artinya:’’ Hai orang-orang yang berima,jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar’’. (QS.Al-Baqarah:153 ).
7. Pendidiknya
hendaknya rajin melakukan hal-hal yang disunnahkan oleh agama, baik dengan
lisan maupun perbuatan, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir dan shalat tengah
malam. hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ÇnûtsÛ Í$pk¨]9$# $Zÿs9ãur z`ÏiB È@ø©9$# 4 ¨bÎ) ÏM»uZ|¡ptø:$# tû÷ùÏdõã ÏN$t«Íh¡¡9$# 4 y7Ï9ºs 3tø.Ï úïÌÏ.º©%#Ï9 ÇÊÊÍÈ
Artinya: “ Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan yang buruk.
Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS.Huud: 114).
8. Pendidikan
hendaknya memelihara akhlaq yang mulai dalam pergaulannya dengan orang banyak
dan menghindarkan diri dari akhlaq yang buruk. Sebagai pewaris Rasulullah SAW,
sudah sepantasnya seorang pendidik untuk memperlihatkan akhlaq yang terpuji,
sebagaimana peran yang dimainkan oleh rasulullah dalam menghadapi umatnya.
9. Pendidik
hendaknya selalu mengisi waktu-waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat.
Seperti beribadah, membaca dan mengarang. Itu berarti bahwa seorang pendidik
harus selalu pandai memanfaatkan segala kondisi sehingga hari-harinyatidak ada
yang terbuang.
10. Pendidik
hendaknya selalu belajar dan tidak merasa malu untuk menerima ilmu dari orang
yang lebih rendah daripadanya, baik secara kedudukan ataupun usianya. Artinya
seorang pendidik hendaknya selalu bersikap terbuka terhadap masukan apapun yang
bersifat positif.
11. Pendidik
hendaknya rajin meneliti, menyusun dan mengarang dengan memperhatikan
keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk itu.
Kedua, kode etik yang berhubungan dengan pelajaran (syarat-syarat
paedagogis-dedaktis), yaitu:
1. Sebelum
keluar dari rumah untuk mengajar, hendaknya pendidik bersuci dari hadast dan
kotoran serta mengenakan pakaian yang baik dengan maksud mengagungkan ilmu dan
syariat.
2. Ketika
keluar dari rumah, hendaknya pendidik selalu berdo’a agar tidak sesat dan
menyesatkan, dan terus berdzikir kepada Allah hingga sampai ke majelis
pengajaran. Ini menegaskan bahwa sebelum mengajarkan ilmunya, seorang pendidik
sepantasnya untuk mensyucikan hati dan niatnya.
3. Hendaknya
pendidik mengambil tempat pada posisi yang membuatnya dapat dilihat oleh semua
peserta didik. Artinya pendidik harus berusaha agar apa yang akan
disampaikannya hendaknya dapat dinikmati dan dipahami oleh seluruh siswanya
dengan baik.
4. Sebelum
mulai mengajar, hendaknya membaca sebagian dari ayat Al-Qur’an agar memperoleh
berkah dalam mengajar, dan membaca basmalah.
5. Pendidik
hendaknya mengajarkan bidang studi sesuai dengan hierarki nilai kemuliaan dan
kepentingannya yaitu tafsir Al-Qur’an, Hadits, ilmu-ilmu ushuluddin, ushul
fiqih dan seterusnya.
6. Hendaknya
pendidik selalu mengatur volume suaranya agar tidak terlalu keras, hingga tidak
membisingkan ruangan, tidak pula terlalu rendah hingga tidak terdengar oleh
peserta didik atau siswa.
7. Hendaknya
pendidik menjaga ketertiban majelis dengan mengarahkan pembahasan kepada objek
tertentu. Artinya, dalam memberikan materi pelajaran, seorang pendidik
memperhatikan tata cara penyampaian yang baik (sistematis), sehingga apa yang
disampaikan akan mudah diterima oleh peserta didik.
8. Pendidik
hendaknya menegur peserta didik yang tidak menjaga sopan santun dalam kelas,
seperti menghina teman, tertawa keras, tidur, berbicara dengan teman atau tidak
menerima kebenaran. Hal ini berarti bahwwa seorang pendidik di tuntut untuk
selalu menanamkan dasar-dasar akhlaq terpiji sopan santun baik didalam maupun
diluar ruangan belajar.
9. Pendidik
hendaknya besikap bijak dalam melkukan pembahasan, menyampaikan pelajaran dan
menjawab pertanyaan. Apabila ia ditanya tentang sesuatu yang tidak tahu. Hal
ini menegakkan bahwa seorang pendidik tidak boleh bersikap pura-pura tahu.
Bahkan Rasulullah tidak pernah menjawab pertanyaan, tatkala beliau tidak tahu
dengan jawaban yang diterka-terka, tetapi beliau hanya menjawab “ la ardy”
(saya tidak tahu). Sebab jika seseorang mencoba menjawab dalam
ketidaktahuannya, dikategorikan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.
10. Terhadap
peserta didik, seorang pendidik hendaknya bersikap wajar dan menciptakan
suasana yang membuatnya merasa telah menjadi bagian dari kesatuan
teman-temannya. Dengan arti lain, pendidik harus berusaha mempersatukan hati
siswanya antara satu dengan yang lainnya.
11. Pendidik
hendaknya menutup setiap akhir kegiatan belajar mengajar dengan kata-kata
wllahhu a’lam (Allah yang maha tahu) yang menunjukkan keikhlasan kepasa Allah
SWT. Hal ini bermaksud setelah proses belajar mengajar berlangsung, seorang
pendidik hendaknya menyerahkan kembali segala urusannya kepada Allah SWT.
12. Pendidik
hendaknya tidak mengasuh bidang studi yang tidak dikuasainya. Hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadi pelecehan ilmiah dan sebaliknya akan memuliakan
ilmu dalam proses belajar mengajar.
Ketiga, kode etik pendidik di tengah para peserta didiknya, yaitu:
1. Pendidik
hendaknya mengajar dengan niat mengharapkan ridha Allah SWT, menyebarkan ilmu,
menghidupkan syara’, menegakkan kebenaran, melenyapkan kebatilan dan memelihara
kemaslahatan umat.
2. Pendidik
hendaknya tidak menolak untuk mengajar peserta didik yang tidak mempunyai niat
tulus dalam belajar.
3. Pendidik
hendaknya mencintai peserta didiknya seperti Ia mencintai dirinya sendiri.
Artinya, seorang pendidik hendaknya menganggap bahwa peserta didiknya itu
adalah merupakan bagian dari dirinya sendiri.
4. pendidik
hendaknya memotivasi pesertadidik untuk menuntut ilmuseluas mungkin.
Sebagaimana pernah dianjurkan oleh Rasulullah dalam sabdanya, yang artinya
“Tuntutlah ilmu itu sekalipun ke negeri Cina”. Hadits ini menyiratkan, bahwa
menuntut ilmu itu tidak ada batasnya, kapan dan dimanapun tempatnya.
5. Pendidik
hendaknya menyampaikan pelajaran dengan bahasa yang mudah dan berusaha agar
peserta didiknya dapat mamahami pelajaran. Artinya, seorang pendidik harus
memahami kondisi peserta didiknya dan mengetahui tingkat kemampuannya dalam
berbahasa.
6. Pendidik
hendaknya melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang
dilakukannya. Hal ini dimaksudkan agar pendidik selalu memperhatikan tingkat
pemahaman siswanya dan pertambahan keilmuan yang diperolehnya.
7. Pendidik
hendaknya bersikap adil terhadap semua peserta didiknya.
8. Pendidik
hendaknya berusaha membantu memenuhi kemaslahatan peserta didik, baik dengan
kedudukan maupun hartanya. Apabila peserta didik sakit, ia hendaknya
menjenguknya, dan apabila kehabisan bekal hendaknya ia membantunya. Hal ini
menggambarkan bahwa, seorang pendidik dianjurkan memperlakukan peserta didiknya
dengan baik sebagaimana ia memperlakukan anaknya sendiri dengan penuh kasih
sayang.
9. Pendidik
hendaknya terus mamantau perkembangan peserta didik, baik intelektual maupun
akhlaknya. Peserta didik yang shaleh akan menjadi tabungan bagi pendidik, baik
di dunia maupun diakhirat. [32]
Menurut Ghazali,
bahwa kode etik guru adalah sebagai berikut:
1. Kasih
sayang kepada peserta didik dan memperlakukannya sebagaimana anaknya sendiri;
2. meneladani
Rasulullah sehingga jangan menuntut upah, maupun penghargaan;
3. Hendaknya
tidak member predikat /martabat kepada peserta didik sebelum ia pantas dan
kompeten untuk menyandangnya, dan jangan member ilmu yang samar sebelum tuntas
ilmu yang jelas;
4. Hendaknya
mencegah peserta didik dari akhlaq yang jelas (sedapat mungkin) dengan cara
sendirian dan tunjuk hidung;
5. Guru
yang memegang bidang studi tertentu sebaiknya tidak menjelek-jelekkan atau
meremehkan bidang studi yang lain;
6. Menyajikan
pelajaran pada peserta didik sesuai dengan taraf kemampuannya;
7. Dalam
menghadapi peserta didik yang kurang mampu, sebaiknya diberi ilmu-ilmu yang
global dan tidak perlu menyajikan detilnya;
8. Guru
hendaknya mengamalkan ilmunya, dan jangan sampai ucapannya bertentangan dengan
perbuatannya.[33]
I. Sepuluh Langkah Strategis Profesional
Guru Pembina Moral
Agar menjadi guru ideal dan inovatif yang mampu melesatkan anak panah
dengan kekuatan penuh ke angkasa, maka hal-hal di bawah ini bisa menjadi
renungan bersama.
1. Menguasai
materi pelajaran secara mendalam
Menguasai meteri pelajaran
adalah syarat utama menjadi guru yang ideal. Dengan mmenguasia meteri,
kepercayaan diri terbangun dengan baik, tidak ada rasa was-was dan bimbang
terhadap pertanyaan murid. Ketenangan bisa diraih dengan kepuasan siswa bias didapatkan. Dalam kontek ini
seharusnya guru mengajar materi sesuai
dengan keahliannya, sebagaimana pepatah
“ the right man on the right place”, manusia yang benar berada ditempat yang
benar. Artinya guru yang ideal adalah
guru yang mengajarmateri pelajaran yang menjadi bidang, bakat dan
spesialsasinya. Kalau orang ahli Bahasa Arab mengajar Bahasa Indonesia atau
sebaliknya, maka hasil yang didapatkan tidak baik. Siswa siswi merasa tidak
puas dan kualitas anak didik yang dihasilkan sangat rendah. Semangat mereka
lemah apalagi bilakemampuan guru tersebut dibawah murid yang diajarkan, maka
hal ini akan menjadi mala petaka pendidikan.
Sekarang ini banyak lembaga
pendidikan yang menempatkan guru tidak pada bidang keahliannya denga berbagai
alasan, misalnya factor kekerabatan, yang penting bias mengajar materi tidak
penting, yang penting mau belajar meteri yang diajarkan, atau alas an lain
seperti tidak menemukan guru yang sesuai dengan keahliannya.
Namun harus diperhatikan,
dalam kontek ini yang menjadi korban adalah murid. Mereka tidak mendapat ilmu
yang diinginkan. Demikian juga lembaga pendidkan. Kalau kualitas anak didiknya
tidak memenuhi standar, maka resiko terburuk gagalnya anak didik dalam UN sangat besar, apaagi
pemerintah dari tahun ke tahun menaikkan standar kenaikan. Jalan pintas untuk
membantu siswa adalah cara yang menyimpang dari esensi pendidikan yang
mengedepankan kejujuran, akuntabilitas dan profesionalitas.
Dalam kontek ini, seorang
guru harus mendalami meteri yang
diajarkan, tidak hanya mengandalkan modal awal yang dipunyai. Tantangan dunia
global yang semakin dinamis, kompetitif dan ekselaratif menuntut seorang guru
menyesuaikan diri dengan pembaharuan-pembaharuan yang ada, meningkatkan
pendalaman materinya dan mampu membuat teori-teori baru yang progresif.
Guru yang menguasai meteri
seharusnya menulis diktat tersebut. Selain itu, ia juga bisa menghilangkan
meteri yang dirasa usang, out of date, memperjelas materi yang penting dan menambahkan hal-hal yang baru yang
menjadi tuntutan dunia global.
Lebih hebat lagi ketika
mengajar, ia tidak membawa buku yang disampaikan. Materi yang diajarkan sudah
diluar kepala, dikuasai betul, sehingga tidak lagi membutuhkannya. Hal ini
secara psikologis akan menambah keyakinan murid tentang kedalaman ilmu seorang
guru.
Dus, guru dituntut menjadi
orang yang betul-betul kompeten dalam satu bidang, terus melakukan kajian dan
pengembangan materi yang dikuasai, dan menelurkan dalam karya ilmiah yang bias
diamati oleh kalangan luas, termasuk murid-muridnya.
Mampu menguasia materi secara
mendalanm dan menggoreskan dalam bentuk diktat atau buku membutuhkan
konsentrasi penuh dan loyalitas yang tinggi. Kekuatan focus pada satu
bidang yang sangat dahsyat dalam
mengantarkan orang menjadi seorang pkar dibidangnya.
2. Mempunyai
Wawasan Luas
Perubahan-perubahan
yang terjadi setiap saat akibat refolusi ilmu pengetahuan dan teknologi
informasi berjalan dalam hitungan detik.
Apa yang terjadi di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Mesir,
Palestina, Israel, Afrika, Italia, Spoyol, Malaisia, Filipina dan belahan dunia
lainnya, bias diakses secara langsung melalui berbagai media, televise dan
internet.
Guru diharuskan
mengikuti informasi ini, sehingga cakrawala pemikirannya menjadi luas, mendunia
dan up to date. Siswa akan bangga mempunyai guru yang memiliki pengetahuan dan
pengalaman luas, cakrawala dan pemikiran yang mendalam, da hal-hal baru yang
segar.
Selalu ada hal
baru yang disampaikan seorang guru akan menjadi salah satu daya tarik murid
yang bias menggugah semangatnya mengikuti pelajaran guru. Murid juga merekam
penjelasan guru dengan baik. Dengan demikian, keterangan guru akan membekas
dihati murd-muridnya.
Inilah salah
satu manfaat mempunyai cakrawala pemikiran yang luas. Cakrawala tersebut
sebaiknya memiliki hubungan dengan materi yang diajarkan. Misalnya, seorang
guru yang mengajarkan PPKN (pendidikan pancasila dan kewarganegaraan),
seyogianya sering melihat acara berita dan dialog di televisi yang membahas
topic actual mengnai politik, ekonomi, hukum, social, pendidikan, budaya, dan
dunia global.
Membaca majalah,
Koran, buku, dan artikel di internet juga sangat bermanfaat bagi seorang guru.
Ada banyak kendala memang bagi mereka yang sibuk bekerja, sedangkan mengjarnya
hanyalah sampingan. Namun, mereka tidak
boleh emah semangat. Karna tanggung jawab besar
ada dipundak mereka. Tanggung jawab menyukseskan generasi bangsa yang
menjadi pemimpin masa depan. Menyiasati kesibukan kerja dengan mencari waktu
selah untuk meningkatkan wawasan adalah sebuah perjuangan, misalnya menonton
televise yang ilmiah, sekaligus mendidik keluarganya. Menonton televise yang
seperti itu tidak akan menghabiskan waktu, jusrtu lebih efisien dan efektif
jika programnya bermanfaat.
3. Komunitatif
Guru yang suka
menyapa dan memperhatikan kondisi muridnya lebih diterima anak didiknya dari
pada guru yang egois, yang dating hanya
untuk menerangkan pelajaran, setelah itu pulang. Ia tidak mau perduli persoalan
anak didiknya.
Disinilah
pentingnya guru berkomunikasi dengan anak didiknya, menyapa anak didik,
menanyakan bagaimana kondisinya, cape, lemas atau tetap semangat. Ketika guru
bertanya pada murid, murid akan merasa diperhatikan, sehingga guru di anggap
bagian darinya.
Komunikiasi
seperti ini
sangat penting bagi pendekatan psikologis anak didik. Aspek penerimaan (
Acceptability) seorang guru menjadi farktor penting bagi kelancaran keg iatan
belajar mengajar didalam kelas. Kalau murid tidak senang kepada gurunya maka
itu kan menjadi gangguanpsikologis guru dalam mengajar. Karna mereka akan
melakukan hal-hal yang tidak disenangi guru tersebut, sehingga bila pertahanan
guru idak kuat akan muncul hal-hal yang tidak diinginkan, seperti perasaan
marah, bertindak diluar batas kewajaran da tindakan-tindakan lain yang tidak
bertanggung jawab.
4. Dialogis
Ingat, tugas
guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menggali potensi terbesar anak didiknya.
Tugas ini sangat sulit dilakukan jika dalam mengajar hanya mengandalkan metode
ceramah, sekedar memberikan materi tampa ada ruang dialog. Pikiran murid tidak
berkembang dan semangat mengembangkan materi menjadi lemah. Disini pentingnya
metode dialog interaktif yang melibatkan dua atau tiga arah. Misalnya murid
bertanya, guru menjawab dan ditanggapi oleh murid yang lain.
Oleh karna itu
dalam metode dialog interaktif ini guru tidak boleh beranggapan paling benar
atau paling tahu segala masalah. Kalau guru mampu menerapkan aspek kesetaraan
yang emas tetap emas , walau dating dari murid. Dengan demikian murid akan
semakin simpatik dengan guru tersebut. Kalau guru tidak bias menjawab dan
bilang tidak bias, kemudian melempar pertanyaan tersebut kepada murid yag lain,
itu tidak akan mengurangi rasa simpati mereka, sebiknya, siswa paham, jika guru
mampu menjawab pertanyaan berarti, ia memang tahu masalahnya, tidak berbohong.
Pendekatan ini
memeng memerlukan letihan, disatu sisi guru tergantung mengembangkan
kemampuannyasecara dinamis dan progresif sehingga pertanyaan murid bias dijawab
dengan benar dan maksimal. Disisi lain murid termotifasi untuk berfikir kritis
dan analitis, menanyakan kekurangan dan kelemahan materi yang disampaikan
Walaupun demikian, dalam metode
dialogis ini, seorang guru jangan menjawab semua pertanyaan murid, lebih baik
dilempar dulu kemurid yang lain, biar didiskusikan terlebih dahulu sampai
matang, sehingga murid merasa pemikirannya dihargai. Selain itu, ekploytasi dan
elaborasi pemikiran murid akan meningkat tajam dan mempunyai mental yang baik
dalam mengemukakan pendapat dan ide-idenya dihadapan forum terbuka.
Dalam posisi ini
guru hanya memberikan catatan tambahan dan wawasan yang lebih menyakinkandan
memantapkan jawaban yang ada, kemudian mengahirinya dengan memberikan
pertanyaan pancingan yang menggugah siswa untuk lebih banyak membaca dan
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. Disinilah
letak kesuksesan guru dalam membangkitkan semangat belajar siswa.
5. Menggabungkan
Teori dan Praktik
Anak didik akan
mudah jenuh bila henya dijejeli meteri tampa adanya praktik. Praktik sangat
diperlukan sebagai media menurunkan, mengendapkan dan meletakkan pemahaman
materi pada otak anak didik. Praktif bias langsung terjun kelapangan atau hanya
di laboratorium. Kalau pelajarannya biologi, anak bias diajak meneliti
tumbuh-tumbuhan sesuai materi yang disampaikan dan kemudian anak disuruh
menyampaikan hasil penelitiannya didepan kelas. Lalu melaporkan secara tertulis
ditambah dengan tambahan keterangan guru dan dari teman-temannya.
Praktik ini
menjadi suatu keharusan pada semua materi, khususnya materi yang membutuhka
aplikasi sehari-hari, misalnya praktik ibadah yang meliputi shalat, bersuci,
wudhu, mandi dan sejenisnya. Apalagi pada pelajaran haji, siswa perlu mempraktikkan
ibadah yang dilakukan umat Islam secara berbondong-bondong diseluruh dunia.
Lebih efektif kalau dihalaman sekolah dibangun miniature ka’bah dan hal-hal
yang bias membuat para siswa memahami dan mampu mempraktikkan haji secara
langsung.
Dari kegiatan
praktik ini, bias dikembangkan dalam bentuk study banding pada lembaga-lembaga
yang lebih maju atau lembaga-lembaga yang berhubungan dengan materi yang
diajarkan
6. Bertahap
Belajar ilmu
adalah setahap demi setahap, dari satu, dua dan seterusnya. Bertahap ini meniscayaka pentingnya materi yang
disampaikanharus urut. Dalam kontek ini ketika mengajar seorang guru harus arif
dan bijaksana. Jangan memberikan semua pengalaman dan ilmu kepada anak didik
dalam satu kesempatan. Berilah sedikit demi sedikit agar anak didik bias
menerima dengan baik.
Kita
bias mengambil metode ini dari peristiwa turunnya Al-Qur’an. Mengapa Al-Qur’an
diturunkan selama 23 tahun tidak langsung 30 juz dalam satu hari? Tentu, ini untuk mempermudah
Nabi dan para sahabat memahami secara bertahap ajaran yan diturunkan Allah
lewat Al-Qur’an. Disinilah kasih sayang Allah kepada Nabi dan hamba-NYA. Sebab,
salah satu fungsinya adalah untuk merespon peristiwa tertentu.
Belajar dari
metode al-Qur’an ini , seoranhg guru harus bias menyampaikan materi agar selalu
actual dan konstektual, sehingga anak-anak tertarik untuk memahami dan mengkaji
secara mendalam. Seorang gurutahu mana yang harus di sampaikan dan mana yang
harus diprioritaskan
7. Mempunyai
Variasi Pendekatan
Dalam proses
belajar mengajar, seorang guru harus mempelajari pendekatan pengajaran . dengan
menguasai pendekatan pengajaran yang banyak, proses belajar mengajar dapat
berjalan secara variatif, tidak monoton dan selalu segar.
Misalnya dalam
suatu kesempatan, seorang guru bias menggunakan pendekatan ceramah. Di lain
kesempatan, dia juga bias menggunakan pendekatan dialogis interaktif, atau bias
juga menggabungkan teori monlogis dan dialogis dalam satu kesempatan.
Pendekatan-pendekatan baru seperti micro
teaching (pengjaran pada kelompok kecil), club discussion (membentuk klub
diskusi), small groups (membentuk
grup-grup kecil), dan student categories (menggolongkan murid), sebaiknya
perlu dicoba.
Dalam menerapkan
banyak pendekatan ini, jangan sampai siswa merasa dilecehkan dan dianaktirikan.
Jika mengadakan penggolongan/kelompok guru harus cerdik, jangan menggolongka
murid berdasarkan kecerdasan, tapi menurut kecendrungan. Dengan begitu murid
merasa dihargai dan bakatnya akan mudah tersalurkan
Seorang guru
jangan sampai fanatic terhadap satu pendekatan, karna siswa akan merasa bosan
dan lelah. Mereka akan menganggap
pembelajaran berlangsung secara monoton, tidak menerik dan selalu membebani
fikiran. Ahirnya mereka tidak konsentrasiterhadap materi yang disampaikan
Dalam kontek ini
guru sangat penting untuk mengikuti berbagai macam pelatihan metodelogi
pengajaran secara teoritis dan praktik, menerapkannya dikelas dan melakakan
evaluasi rutin tentang aktifitas metode yang digunakan.
Masing-masing daerah
mempunyai karakteristik berbeda-beda, sehingga membuthkan pendekatan yang
berbeda-beda pula dalam merangsang semangat belajar mereka agar tidak
menyimpang dari norma adat istiadat dan ajaran agama mereka.
Disinilah
pentingnya mempelajari sebanyak mungkin pendekatan pembelajaran agar seorang
guru mampu beradaptasi dengan cepat dengan berbagai daerahdan siswa yang
berbeda-beda.
8. Tidak
Memalingkan Materi Pelajaran
Dalam mengajar
seorang guru harus konsentrasi penuh pada satu arah, satu target dan satu
tujuan yang dicanangkan, sehingga hasilnya maksimal. Misalnya dalam materi
agama tentang shalat, ia harus berbicara seputar shalat dan hal-hal yang
bersifat menunjang. Jangan sampai ketika menerangkan tentang shalat, anak
diajak jauh berbicara masalah politk dan budaya, yang justru menghabiskan waktu
mengajar karna mengikuti selera dan kepentingan guru.
Oleh
sebab itu seorang guru harus membuat rencana pembelajaran, target pembelajaran
da eveluasi pembelajaran. Hal-hal tersebut bias digunakan sebagai ukuran dan
pengingat kelalaian yang bias dating sewaktu-waktu secara tidak terduga.
Manusia tetap manusia yang sering melakukan kesalahan, namun jangan sampai
terus menerus melakukan kesalahan.
Selain
itu, seorang guru juga perlu mempunyai buku catatanpribadi yang memuat materi
yang telah disampaikan, pertanyaan-pertanyaan siswa yang belum terjawab, atau
yang sudah terjawab tapi belum maksimal dan hal-hal lain yang menyangkutmateri
pelajaran yang telah disampaikan. Ditengah berbagai ksibukan, catatan tersebut
sangat penting. Paling tidak, sebelum mengajarguru bias melihat sebentar
catatan tersebut untuk menelaahnya, lalu mempersiapkan pelajaran yang akan
disampaikan.
9. Tidak
Terlalu Menekan dan Memaksa
Seorang guru
harus berusaha untuk mengajar secara alami, tidak terlalu menekan dan memaksa
murid, karna efeknya tidak positif bagi perkembangan psikologinya. Guru harus
bias menyelam psikologi anak. Memberikan meteri secara mengalir sesuai falsafah
“air mengalirsecara pelan, mampu menerobos hal-hal sulit dan merobohkan hal-hal
besar dengan ketekunan, kerajinan, dan kesungguhan “.
Kalau murid
diberi target terllu tinggi kemudian melakuka penekanan dan pemaksaan diluar
batas kemampuan mereka, maka pembelajaran tidak akan berjalan secara enjoyable.
Guru yang
idealis tapi tidak arifmelihat kondisi siswa
bias terkena masalah. Oleh karna itu idealis guru yang besar harus
ditunjang dengan kearifan, kebijaksanaan, dan kecerdasan dalam membangkitkan
semangat belajar anak. Guru harus bias merekayasa suasana, sehingga tidak
terasa anak didik justru berinisiatif meminta guru menambahdan melanjutkan
pelajaran. Disinilah letak suksesnya guru, inisiatif dating dari anak murid,
bukan dari guru.
Walaupun
demikian, guru yang idealis dengan murid tetap harus mengatur ritme
pembelajaran agar keseimbangan dan harmonis terjaga, tidak cepat bosan dan
lelah. Jangan sampai semangat belajar anak-anak pada satu mata pelajaran
mengorbankanpada pelajaran yang lain. Ahirnya pada pelajaran lain mental dan staminanya
sudah habis. Kehilangan semangat dan konsentrasi. Ini harus dihindari. Sekali
lagi kearifan sangat penting disini, agar tidak terjadi over acting atau over
lapping.
10. Humoris
Tapi Serius
Salah satu cirri
guru ideal aadalah berwatak dinamis, kompetatif tapi juga humoris. Ditengah
kepanatan fikiran, keletihan fisik dan kebosanan fikiran, humor sangat
diperlukan. Dengan selera humor yang tinggi guru bisa memecahkan kejenuhan,
menghilangkan kepenatan dan menyegarkan fikiran anak-anak.
Setelah kepenatan
dan keletihan hilang, guru bias memulai pelajarannya. Walau begitu dalam humor
ini guru tidak boleh berlebihan sehingga mengganggu konsentrasi lingkungan
belajar disekitarnya.
Humor bukan
tujuan, sekedar alat untuk menyegarkan fikiran. Kalau anak didik belajar dari
pukul 07.00 sampai pukul 13.00, tentu beban fikiran paada pelajaran terahir
sangat berat. Disini peran guru dalam mengatur irama, ritme dan menghilangkan
beban fikiran anak. Dari pada memberikan tambahan materi, sedang murid-murid pada
tidur, lebih baik menyegarkan fikiran mereka dulu dengan humor.
Seorang guru bisa memberikan humor yang
mendidikyang dapat mengggah semangat belajar, memberikan motivasi dan inspirasi
para siswa agar mempunyai cita-cita yang tinggi.
Sepuluh indikator guru ideal dan
inovatif sangat
penting dilaksanakan untuk meningkatkan
pembelajaran dalam rangka mempersiapkan anak didik yang siap bersaing
dalam kompetisi terbuka diera global sekarang dan yang akan datang
J.
Menerapkan
Metodologi Mengajar
Sebagai seorang
guru, kita harus mengenal bermacam-macam metodologi mengajar, agar KBM berjalan
secara variatif, sehingga guru dan murid sama-sama semangat dalam menjalani
KBM.
Metodologi
mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktifitas yang
tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik
untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan, sehingga proses
pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran tercapai.
Agar tujuan tercapai
sesuai yang telah dirumuskan
pendidik, maka pendidik perlu mengetahui metode mengajar lalu mempraktikkannya
pada saat mengajar.
1. Metode Ceramah ( Preaching
Method )
Metode ceramah
yaitu sebuah metode mengajardengan menyampaikan informasi dan pengetahuan
secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara fasif.
Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis
untuk menyampaikan informasi dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan
literature atau rujukan sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham
siswa.
Namun
demikian ada beberapa kelemahan metode ini :
a. Membuat
siswa pasif
b. Mengandung
unsur paksaan pada siswa
c. Membendung
daya kritis siswa ( Darajat 1985 )
d. Sukar
mengontrol sejauh mana pemerolehan belajar anak didik
e. Kekiatan
mengajar menjadi verbalistik ( pengertian kata-kata )
f. Membosankan
( Saiful Bahri Djamarah, 2000 )
Selain kelemahan diatas
ada juga beberapa kelebihan dari metode ini :
a. Guru
mudah menguasai kelas
b. Guru
mudah menerangkanbahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat
diikuti anak didik dalam jumlah besar
d. Mudah
dilaksanakan ( Saiful Bahri Djamarah, 2000 )
2. Metode
Diskusi
Muhibin Syah (
2000 ) mendefinisikan metode diskusi
sebagai metode mengajar yang sangat erat
hubungannya dengan memecahkan masalah (
problem solving ). Metode ini juga lazim disebut diskusi kelompok ( group
discussion ) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).
Ada beberapa manfaat
yang diperoleh dari metode ini jika
diaplikasikan dalam belajar:
a.
Mendorong siswa
berfikir kritis
b. Mendorong
siswa mengekpresikan pendapatnya secara bebas
c.
Mendorong siswa
menyumbangkan fikirannya untuk memecahkan masalah bersama
d. Mengambil
satu alternative jawaban atau beberapa alternative jawaban untuk memecah
masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama.
Disamping
itu metode ini memiliki beberapa kelebihan:
a. Menyadarkan
anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan
b. Menyadarkan
anak didik, bahwa dengan berdiskusi mereka bias saling menemukan pendapat
secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
c. Membiasakan
anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain meskipun tidak sama dengan
pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi( Syaiful Bahri Djamarah, 2000 )
Tapi
metode ini memiliki kelemahan sebagai berikut :
a. Tidak
dapat dipakai dalam kelompok besar
b. Peserta
diskusi mendapat informasi yag terbatas
c. Dapat
dikuasai oleh orang-orang yang suka bicara
d. Biasanya
orang menghendaki pendekatan yag lebih formal ( Syaiful Bahri Djamarah )
3. Metode
Demonstrasi ( Demonstration method
)
Metode
demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian,
aturan dan urutan baik secara langsung maupun melalui penggunaan media
pengajaran yang relevan dengan pokok pembahasan atau materi yang sedang
disajikan.
Muhibin Syah,
2000..Manfaat psikologi paedagogis dari metode ini antara lain :
a. Perhatian
siswa dapat lebih dipusatkan
b. Proses
belajar siswa bias lebih terarah pada meteri yang sedang dipelajari
c. Pengalaman
dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa ( Darajat
1985 )
Selian
itu kelebihan metode ini :
a. Membantu
anak didik memahamidengan jelas jalanya suatu proses atau kerjanya suatu benda
b. Memudahkan
berbagai jenis penjelasan
c. Kesalahan-kesalahan
yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh
konkrit, dengan menghadirjka objek sebenarnya ( Syaiful Bahri Djamarah, 2000 ).
Walau
demikian metode ini memiliki kelemahan :
a. Anak
didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan
b. Tidak
semua benda dapat didemontrasikan
c. Sukar
dimengerti jika didemonstrasikan oleg guru yang kurang menguasai apa yang akan
didemonstrasikan ( Syaiful Bahri Djamarah, 2000 )
4. Metode
Resitasi ( Resitation Method )
Metode
resitasi adalah metode mengajar yang mengharuskan siswa membuat resume dengan
kelimat sendiri. Ada beberapa kelebihan metode ini :
a. Pengetahuan
anak didik dari hasil belajar sendiri akan lebih lama diingat
b. Anak
didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif,
bertanggung jawab dan berdiri sendiri ( Syaiful Bahri Djamarah, 2000 )
Sementara
kelemehan metode ini, antara lain :
a. Terkadang
anak didik melakukan penipuan dengan hanya meniru hasil pekerjaan temannya,
tampa mau bersusah payah mengerjakan sendiri
b. Terkadang
tugas dikerjakan oleh orang lain tampa pengawasan
c. Sukar
memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual ( Syaiful Bahri Djamarah,
2000 )
5. Metode Percobaan (
Eksprimental Method )
Metode
ekperimen adalah satu cara mengajar yang memberikan kesempatan pada siswa untuk
melakukan suatu percobaan pada satu hal, mengamati prosesnya dan menuliskan
hasil percobaannya. Dan hasil itu disampaikan dikelas dan dievaluasi oleh guru.
Penggunaan
teknik ini mempunyai tujuan, agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri
berbagai jawaban atau persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan
sendiri, selain tu siswa dilatih cara berfikir ilmiah dan dapap menemukan bukti
kebenaran dari satu yang sedang dipelajarinya.
Agar
penggunaan metode ini efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a.
Sediakan sejumlah alat
dan bahan atau materi percobaan yang cukup bagi tiap siswa
b.
Agar ekperimen itu
tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang menyakinkan atau mungkin hasilnya
tidak membahayakan maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan
harus baik dan bersih
c.
Dalam eksperimentasi,
siswa memerlukan ketelitian dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan.
Karna itu perlu waktu yang lama, hingga mereka menemukan pembuktian kebenaran
dari teori yang di pelajari itu.
d.
Siswa perlu mendapat
petunjuk yang jelas, sebab disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta
pengetahuan, kematangan jiwa dan sikap mereka juga perlu diperhitungkan oleh
guru dalam memmilih objek eksperimen itu.
e.
Tidak semua masalah
dapat dpecahkan oleh metode ini, seperti persoalan menyakinkan manusia, karna
sangat terbatasnya suatu alat.
Ada
beberapa prosedur eksperimen yang harus ditaati siswa :
a. Perlu
dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen
b. Memberi
penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan
dipergunakan, hal-hal yang harus dikontrol, ahl-hal ang harus dicatat
c. Selama
eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi siswa, bila perlu memberikan
pertanyaan untuk menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen
d. Setelah
selesai guru harus mengumpulkan hasil dari siswa, mendiskusikan dikelas dan
mengevaluasi tes atau tanya jawab.
Metode
eksperimen memiliki kelebihan yang amat besar, diantaranya :
a. Metode
ini dapat membuat anak didik lebih percayaatas kebenaran atau kesimpulan
berdasarkan berdasarkan percobaannya sendiri, dari pada hanya menerima dari
guru atau buku.
b. Anak
didik dapat mengembangkansikap untuk mengeksplorasi tentang ilmu dan teknologi
c. Dengan
metode ini, akan terbina manusia-manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan
baru sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi
kesejahteraan hidup manusia
Meski
manfaatnya sangat besar, metode ini memiliki kekurangan, antara lain:
a. Metode
ini terkadang memerluka bahan yang tidak mudah diperoleh dan mahal
b. Karna
tidak adanya alat-alat, mengakibatkan tidak semua anak didik berkesempatan
mengadakannya
c. Memerlukan
jangka waktu yan lama
d. Metode
ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang sains dan teknologi
e. Setiap
percobaan selalu memberikan hasil yang diharapkan
Menurut
Palendeng, metode ini adalah yang sesuai dengan sains. Karna metode ini mampu
memberikan kondisi belajar yag dapat mengembangkan kemampua berfikir dan
kreatifitas secara optimal.
Dalam
metode ini guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik, mental dan emosional
siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih keterampilannya untuk memperoleh
hasil belajar yang maksimal.
Pengalaman
yang dialami secara langsung tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik,
mental dan emosionalnya dalam metode ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa
percaya diri dan prilaku siswa yang inovatif dan kreatif.
Dengan
metode ini, siswa belajar secara aktif denga mengikuti tahap-tahap
pembelajarannya. Dengan demikian siswa akan meemukan sendiri konsep sesai
dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.
Menurut
Palendeng, pembelajaran dengan metode ini, meliputi tahap-tahap sebagai berikut
:
a. Percobaan
awal , yang dilakukan dengan melakukan percobaan yang didemonstrasikan atau
dengan mengamati penomena alam. Yang menampilkan masalah-masalah yang berkaitan
denga materi yang akan dipelajari
b. Pengamatan,
yaitu kegiatan siswa saat guru melakukan percobaan dimana siswa diharapkan
mampu mengamati da mencatat peristiwa tersebut.
c. Hipotesis
awal, berdasarkan hasil pengamatan
d. Verifikasi,
untuk membuktikan kebenaran dari dugaan awal yang telah dirumuskan dan
dilakukan mlalui kerja kelompok.
e. Aplikasi
konsep, Hasilnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini
merupakan pemantapan konsep yang telah dipelajari
f. Evaluasi,
Yaitu kegiatan ahir setelah selesai menemukan suatu konsep
K.
Menjadi
Guru Profesional
Dengan
menerapkan 10 langkah dan metode-metode diatas, seorang guru sangat diharapkan
akan semakin prpfesional dalam bidangnya. Dan akan menjadi teladan bagi guru
yang lain, dalam mengembangkan kompetensi dan potensi disemua bidang kehidupan
Kemampuan
dasar yang harus dikuasai guru
menurut Oemar Hamalik adalah :
1. Kemampuan
menguasai bahan, terdiri dari 2 bagian
a.
Menguasai bahan bidang
study dan kurikulum sekolah
·
Mengkaji bahan
kurikulum bidang study
·
Mengkaji isi buku teks
bidang study yang bersangkutan
·
Melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang disarankan dalam
kurikulum
b.
Menguasai bahan
pendalaman atau aplikasi bidang study
·
Mempelajari ilmu yang
relevan
·
Mempelajari aplikasi
bidang ilmu kedalam bidang ilmu lain ( untuk program study tertentu )
·
Mempelajari cara
menilai kurikulum bidang study
2. Kemampuan
mengelola program belajar mengajar
Terdiri
atas beberapa hal :
a.
Merumuskan tujuan
instruksional, meliputi :
·
Mengkaji kurikulum
bidang study
·
Mempelajari cirri-ciri
rumusan tujuan intruksional
·
Mempelajari
instruksional bidang study yang bersangkutan
b.
Mengenal dan
menggunakan metode mengajar, meliputi :
·
Mempelajari macam-macam
metode mengajar
·
Berlatih menggunakan
metode tersebut
c.
Memilih dan menyusun
prosedur intruksional yang tepat, meliputi :
·
Mepelajari kreteria
pemilihan materi dan prosedur mengajar
·
Berlatih menggunakannya
·
Berlatih merencanakan
program pembelajaran
·
Melatih menyusun satuan
pelajaran
d.
Melaksanakan program
belajar mengajar, meliputi :
·
Mempelajari fungsi dan
peranan guru dalam intruksi belajar
mengajar
·
Berlatih menggunakan
alat bantu belajar mengajar
·
Melatih menggunakan
lingkungan sebagai sumber belajar
mengajar
·
Memonitor proses
belajar siswa
·
Berlatih menyesuaikan
rencana program pengajaran dengan situasi kelas
e.
Mengenal kemampuan (
Entry behavior ) anak didik, meliputi :
·
Mempelajari
factor-faktor yang mempengaruhi pencapaian
prestasi
belajar
·
Mempelajari prosedur
dan teknik untuk menidentifikasi
kemampuan
siswa
·
Berlatih menggunakan
prosedur dan teknik untuk mengidentifikasi kemampuan siswa
·
Berlatih menyusun alat
untuk mengidentifikasi kemampuan siswa
f.
Merencanakan dan
melaksanakan pengajaran remedial, meliputi
·
Mempelajari
factor-faktor penyebab kesulitan belajar
·
Berlatih mengdiagnosis
kesulitan belajar siswa
·
Berlatih menyusun
rencana pengajaran remedial
·
Melaksanakan pengajaran
remidial
3.Kemampuan mengelola kelas dengan pengalaman belajar
BAB. III
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah
penelitian survey dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Menggunakan
jenis penelitian survey karena dalam pengumpulan data, penulis menghimpun
informasi dari para responden menggunakan kuesioner sebagai metode pokok.
Sebagaimana yang dikemukakan Masri Singarimbun, bahwa penelitian survey adalah
penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner
sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
BAB. IV
PEMBAHASAN
a.
Guru Profesional Sebagai Pembina Moral Anak-Anak
Bangsa
b.
Ketauladanan,
kedisiplinan Guru Profesional sangat diperlukan
c.
Pembelajaran akan berjalan baik bila para
Gurunya Profesional
BAB. V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Menjadi guru itu gampang-gampang
susah. Mengampu pelajaran tertentu yang telah ditekuni sekian lama dan terus
berulang tentu bukanlah pekerjaan sulit. Namun menghadapi murid yang selalu
berganti tiap tahun, memiliki karakter berbeda, dan tingkat penyerapan terhadap
materi pelajaran yang tak sama, pasti membutuhkan kesabaran dan ketelatenan
yang tinggi.
Peran
guru sangat vital bagi pembentukan kepribadian, cita-cita, dan visi misi yang
menjadi impian hidup anak didiknya dimasa depan, disinilah urgensi melahirkan
guru-guru berkualitas yang ideal dan inovatif yang mampu membangkitkan semangat
besar dalam diri anak didik untuk menjadi aktor perubahan peradaban dunia di
era global ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman An-Nawawi, Pendidikan
Islam Dirumah, Sekolah, dan Masyarakat (Jakarta : Gema Islami, 1996) hlm
262-263
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam
Prosfektif Islam (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994) hlm 143
Armai Arief, Revolmulasi Pendidikan
Islam (Jakarta : Ciputat Press Group, 2007) hlm 150-151
Balnadi Sutadipura, Aneka Problem
Keguruan (Bandung ; Angkasa, 1985) hlm.102-108)
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Besar Bhs. Indonesia (Jakarta _ Balai Pustaka 2007) Edisi 3 hlm 854
Depdiknas, Op Cit,. Hlm 146
Dewan Ketut Sukardi, Bimbingan dan
penyuluhan Belajar di Sekolah (Surabaya : Usaha Nasional) hlm 63
E. Mulyasa,Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru
(Bandung Rosda, 2008) hlm 55-57
Hadari Nawai, Organisasi Sekolah dan
pengelolaan Kelas (Jakarta : Haji Masagus 1989) hlm 123
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam,
(Ciputat : PT Logos Wacana Ilmu, 1999) hlm 97-99
http/martiningsih,
blogspot.com/2007/12/ Macam-Macam Metode
Pembelajaran
Ibid, hlm 96
KH.M.Hasyim Asy’ari,Menjadi Orang Pinter dan Bener
(Yogyakarta : Qirtas, 2003), hlm 69-90
Kunandar, Guru Profesional
Implementasi KTSP dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru (Jakarta : Raja
Grafindo {Persada, 2009) hlm 60
Kunandar, Op Cit,. Hlm 61-62
Kunandar, Op Cit,. Hlm 62
M.
Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1993) hlm 137-139)
M. Jamaluddin Al-Qosimi Ad-Dimasyiqi, Mau’idzatul
Mukminin (Almaktabah Al-Kubro) tt, hlm 523
M. Uzer Usman, Menjadi Guru
Profesional (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995) hlm 4
M. Uzer Usman, Menjadi Guru
Profesional (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004) hlm 9-12
Moh. Uzer Usman, Op Cit,. Hlm 4
Muhaimin, Op Cit,. Hlm 95
Muhaimin, Op Cit,. Hlm 95-96
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan
Psikologi Proses Pendidikan (Bandung Remaja Rosdakarya, 2007) hlm 252
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran
Berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) hlm 154-161
Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat
Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya ( Jakarta Kalam Mulia, 2009) hlm
148-149
Ramayulis dan Samsul Nizar, Op Cit,. Hlm 135-138
Ramayulis dan Samsul Nizar, Op Cit,. Hlm 157
Ramayulis dan Samsul Nizar, Op Cit,. Hlm 158-163
Sardiman AM, Interaksi dan Motifasi
Belajar Mengajar (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994) hlm 123
Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI (Jakarta : Raja Grafindo Persada,
2005) hlm 152
Zakiyah Darajat, Membina Nilai-Nilai
Moral di Indonesia (Jakarta : Bulan Bintang, 1976) hlm 90-91
Zakiyah darajat, Op Cit,. Hlm 62
[2] M. Athiyah Al-Abrasyi,
Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1993) hlm 137-139)
[5] Oemar Hamalik,
Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta : Bumi Aksara,
2008) hlm 154-161
[6] Ramayulis dan Samsul
Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para
Tokohnya ( Jakarta Kalam Mulia, 2009) hlm 148-149
[8] Departemen Pendidikan
Nasional, Kamus Besar Bhs. Indonesia (Jakarta _ Balai Pustaka 2007) Edisi 3 hlm
854
[14] Kunandar, Guru
Profesional Implementasi KTSP dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru (Jakarta : Raja
Grafindo {Persada, 2009) hlm 60
[15] Nana Syaodih Sukmadinata,
Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung Remaja Rosdakarya, 2007) hlm 252
[16] Sardiman AM, Interaksi
dan Motifasi Belajar Mengajar (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994) hlm 123
[17] Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan Dalam Prosfektif Islam (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994) hlm 143
[18] Abdul Rahman An-Nawawi,
Pendidikan Islam Dirumah, Sekolah, dan Masyarakat (Jakarta : Gema Islami, 1996)
hlm 262-263
[21] Dewan Ketut Sukardi,
Bimbingan dan penyuluhan Belajar di Sekolah (Surabaya : Usaha Nasional) hlm 63
[23] Zakiyah Darajat, Membina
Nilai-Nilai Moral di Indonesia (Jakarta : Bulan Bintang, 1976) hlm 90-91
Tidak ada komentar:
Posting Komentar