Hari Ibu = Mother’s
Day?
Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No.
316 tahun 1959, bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara
nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk
mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan
kualitas bangsa ini.
Di negara kita hari Ibu di identikan dengan hari di mana kaum perempuan
dimanja dan dibebaskan dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan
kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.
Mungkin berbeda dengan di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti
Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura,
Taiwan, dan Hongkong yang merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa
negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu atau Mother’s Day diperingati setiap bulan Maret. (Kompas, 2004)
Pertanyaan yang muncul, apa esensi diperingatinya hari ibu dinegara kita
dan apa bedanya dengan Mother’s Day?.
Dalam tulisan ini, penulis bertujuan untuk melakukan tilikan akar historis
menyangkut Hari Ibu, berkaitan dengan munculnya berbagai pandangan yang
memaknai Hari Ibu di Tanah Air. Hari Ibu di Indonesia dimaknai mengikuti
tradisi Mother’s Day ala Amerika Serikat atau Eropa yang mendedikasikan hari
itu sebagai penghormatan terhadap jasa para ibu dalam merawat anak-anak dan
suami serta mengurus rumah tangga.
Menurut sejarah, hari ibu diawali dari bertemunya para
pejuang wanita dengan mengadakan Kongres
Perempuan Indonesia I pada 22-25
Desember 1928 di Yogyakarta, yang salah satu hasil dari kongres tersebut
salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia
Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.
Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah
perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari
berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk
berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu
yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara;
pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan
dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum
perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia
dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan
jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya
yang amat penting bagi kemajuan bangsa (ensiklopedi Indonesia, 1988).
Bila kita tilik, cakupan persoalan yang dibahas Kongres Perempuan I ini menunjukkan keluasan persoalan dan upaya memperjuangkan hak-hak kaum perempuan secara lebih baik pada waktu itu. Dan, yang cukup penting kita cermati adalah hasil keputusan kongres tersebut untuk mendirikan badan permufakatan bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang bertujuan menjadi pertalian segala perhimpunan perempuan Indonesia dan memperbaiki nasib dan derajat perempuan Indonesia.
Semua rekomendasi ini dibuat oleh gerakan perempuan Indonesia tiga perempat abad lalu dan tak bisa kita ingkari kekaguman kita terhadap mereka, serta rasa malu untuk melihat betapa mundurnya gerakan perempuan kita saat ini. Kampanye antiperdagangan perempuan dan anak yang sekarang baru menjadi tren di kalangan organisasi perempuan, sudah secara konkret menjadi agenda gerakan perempuan sejak 80 tahun lalu!. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Dari paparan tersebut tercermin, misi diperingatinya Hari Ibu lebih untuk
mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas
bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai
latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Yang lebih hebat, pemikiran
dan aneka upaya penting itu terjadi jauh sebelum kemerdekaan negeri ini diraih
dan jauh sebelum konsep-konsep adil jender dan feminisme berkembang di negeri
ini.
Kata"ibu"
Yang barangkali telah merancukan pemaknaan Hari Ibu adalah digunakannya
kata "ibu", dan bukan "perempuan". Masalahnya, jika ditilik
dari apa yang dilakukan para pejuang saat itu, titik sentral yang digarap
adalah kaum perempuan secara umum, bukan sebatas kaum ibu.
Jadi, menilik sejarahnya, mestinya bukan the state of being mother-nya yang diapresiasi, tetapi keperempuanan dan semangat juang mereka yang hebat.
Penggunaan kata ibu ini pulalah yang tampaknya telah membuat pemaknaan Hari Ibu terseret ke arah pemaknaan Mother’s Day, yang lebih ditujukan untuk memberi puja-puji terhadap ke-ibu-an (motherhood) dan perannya sebagai "yang telah melahirkan dan menyusui", sebagai pengasuh anak, sumber kasih sayang, pemandu urusan domestik, dan pendamping suami.
Hal-hal inilah yang menjadi titik sentral peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno (Wikipedia, 2004).
Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.
Akan tetapi, seperti terjadi di Indonesia, makna itu mengalami pendangkalan akibat komersialisasi dan bisnis media lebih ke arah hari makan-makan atau pemberian kado bagi para ibu.
Dari paparan tersebut, tampak peringatan Hari Ibu 22 Desember di Indonesia amat tidak konsisten karena secara makna lebih cenderung mengarah ke worshiping motherhood, seperti di Eropa dan Timur Tengah, dan praktiknya cenderung mengopi apa yang dilakukan masyarakat Amerika Serikat, tetapi dari segi waktu maunya memakai tanggal di mana pejuang perempuan bangsa bersatu.
Jika kita ingin dianggap jelas dalam berpikir, seharusnya mengembalikan
hari penting itu kepada makna sejatinya, yakni mengenang perjuangan dan
keterlibatan perempuan dalam usaha perbaikan nasib bangsa yang belum lepas dari
berbagai kemalangan, tanpa harus menghilangkan rasa terima kasih dan puja-puji
terhadap jasa dan perjuangan kaum ibu.
Atau jika penekanannya lebih kepada yang disebut terakhir, kita ciptakan Mother’s Day pada bulan Maret atau Mei. Selamat Hari Ibu. Selamat berjuang, kaum perempuan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar